Peringati Sabtu Kelabu, PAC PDIP Gondokusuman Ziarah Makam Mantan Pengurus

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – PAC PDI Perjuangan merefleksikan peristiwa ‘Kudatuli’ sebagai kekerasan politik di masa orde baru dengan mengunjungi makam mantan pengurus struktural dan satgas. Peringatan 24 tahun tragedi kerusuhan 27 Juli, ini menjadi momen penting dalam sejarah politik nasional.

“Keluarga besar PDI Perjuangan Gondokusuman melakukan kegiatan tabur bunga dan nyekar ke makam kawan-kawan mantan pengurus struktural dan satgas Gondokusuman untuk mengenang jasa para senior yang lebih dahulu mendahului kita,” kata Wahidin Sarjono, koordinator aksi refleksi dari PAC PDI Perjuangan Gondokusuman.

Langkah refleksi bersama dilakukan untuk mengingatkan generasi muda agar bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa kekerasan politik masa lalu agar tidak terjadi lagi di masa mendatang. “Kami ingin mengajak para kader generasi muda Gondokusuman dlm memperingati kerusuhan 27 Juli untuk nyekar dan mendoakan kawan2 kita yang dulu berjuang dlm melawan orde baru di tahun lalu,” kata Wahidin Sarjono.

Wahidin Sarjono menambahkan lewat kegiatan ini ada harapan bahwa semangat dan ideologi kawan-kawan seperjuangan yang telah mendahului bisa jadi pelajaran dan bermanfaat ke generasi muda banteng umumnya.

“Kegiatan tabur bunga dan berdoa bersama di laksanakan di makam mas Widiyarta yang akrab dengan panggilan jabrik, Sugeng Riyanto alias mas krucil, Santo, Pengki, Mbak Wiwik dan lain-lain,” kata Wahidin Sarjono.

Endro Sulaksono, anggota DPRD Kota Yogyakarta dari Fraksi PDI Perjuangan yang merupakan salah satu tokoh PDI Perjuangan Gondokusuman menyebutkan kegiatan yang mulia untuk lakukan refleksi bersama. “Refleksi peringatan tragedi 27 Juli jadi waktu bagi kita semua untuk meneladani lagi semangat para kawan dan tokoh senior yang telah mendahului kita semua menjadi contoh para generasi muda PDI Perjuangan dalam menjaga NKRI dan menjaga harkat martabat partai,” kata Endro Sulaksono.

“PDI Perjuangan selalu berada di hatinya rakyat. Kalau ada yang menghujat dan mendeskriditkan PDI Perjuangan kita akan lawan.Mari dlm peringatan tragedi 27 juli ini dengan semangat dan ideologi gotong royong kita bisa merapatkan barisan untuk kejayaan PDI Perjuangan,” kata Endro Sulaksono.

Kini setelah berjarak waktu dengan peristiwa kekerasan politik pada 27 Juli 1996, bangsa Indonesia masih harus terus berjuang untuk terus melawan penindasan dengan dasar ikhlas berjuang.

“Hari ini sudah berjarak waktu 24 tahun berlalu paska peristiwa 27 Juli 1996. PDI Perjuangan terus berjuang melawan penindasan dengan dasar ikhlas berjuang dan rela berkorban. Refleksi bersama kita gelar di kantor DPC PDI Perjuangan Kota untuk mendoakan mereka yang jadi korban dan kita tetap di jalan perjuangan,” kata Eko Suwanto, Ketua DPC PDI Perjuangan Yogyakarta. (*)

BERITA REKOMENDASI