Perjuangan Prajurit Bangun Talud Winongo Lindungi Warga Bugisan

Editor: Ivan Aditya

Warga Kampung Bugisan RT.31/RW.06 Patangpuluhan Wirobrajan Yogyakarta kini bisa bernafas lega. Rasa was-was tak lagi menghinggapi mereka terutama disaat hujan tiba. Talud kokoh yang dibangun para prajurit aman melindungi 10 kepala keluarga dari bahaya longsor yang setiap saat dapat sewaktu-waktu datang mengancam.

Anak sungai yang melintasi Bugisan merupakan percabangan dari Kali Winongo, salah satu sungai besar yang membelah di Kota Yogyakarta. Sepintas debit anak sungai ini tak begitu besar, namun jangan salah ketika hujan deras melanda aliran ini dapat melahirkan malapetaka.

Selain banjir besar, tanah di sekitar bantaran juga tak jarang longsor tergerus air. Warga di atas aliran anak sungai inilah merupakan orang pertama yang paling terancam nyawanya jika bencana alam itu benar-benar terjadi.

“Sering cemas, apalagi saat hujan turun. Bantaran sungai rawan longsor dan aliran sungai kadang terjadi kenaikan sehingga mengancam kami,” kata Siti Mardatun, salah seorang warga yang rumahnya tepat berada di atas bantaran.

Sebenarnya dulu talud ini pernah dibangun pemerintah daerah setempat, namun karena faktor usia maka lama kelamaan bangunan tersebut hancur juga. Yang ada kini hanyalah tinggal tanah bercampur tumpukan sampah menjadi dinding pembatas antara anak sungai dan rumah warga.

Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-111 Kodim Yogyakarta memberi secerca harapan bagi warga Bugisan. Talud yang selama didambakan warga akhirnya bisa terwujud dengan pembangunan yang dilakukan para prajurit.

Secara bahu membahu para prajurit TNI bersama angota Polri, pemerintah daerah dan masyarakat membangun talud sepanjang 33 meter tersebut. Agar kuat, talud sebangun setinggi 3 meter dengan ketebalan 1,25 meter.

Proyek pembangunan talud ini memang cukup berat. Dengan bekerja di tengah terik matahari saat musim kemarau semakin membuat para prajurit dan mesyarakat tertantang untuk terus bekerja guna menyelesaikan pembangunan ini.

Kemanunggalan antara TNI dan rakyat terlihat nyata dalam titik sasaran pengerjaan program ini. Semua berkumpul jadi satu memberikan pemikiran dan tenaganya tanpa memandang jarak diantara mereka.

Untuk memberi semangat bahkan Waaster Kasad Bidang Perencanaan dan Kemampuan Teritorial Mabes TNI AD, Brigjen TNI Sugiono menyempatkan diri meninjau langsung pembangunan talud tersebut. Selain itu jenderal bintang satu ini juga juga memberikan motivasi bagi para prajurit dan warga untuk terus manunggal dalam TMMD Reguler ke-111 Kodim 0734 Yogyakarta.

Kurang dari 30 hari pembangunan talud di Bugisan ini selesai dikerjakan. Masyarakat kini tak lagi cemas dan sekarang dapat tidur dengan nyenyak saat hujan turun tanpa harus mengkhawatirkan longsor yang bakal terjadi.

“Sekarang kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Kami sebagai rakyat kini benar-benar merasa terlidungi dengan adanya talud ini yang dikerjakan oleh bapak-bapak tentara,” ujar Siti Mardatun.

Hidup Berdampingan dengan Sungai

Ketua Ketua RT.31, Dariyo Gistanto mengungkapkan dahulu kawasan talud tak ubahnya seperti tempat pembuangan sampah. Bahkan sampah yang terbuang telah menggunung dan menimbulkan bau tidak sedap.

Selain dihasilkan oleh warga sekitar, sampah juga ditimbulkan dari aliran air yang membawanya hingga ke Kampung Bugisan. Sampah-sampah tersebut tertahan di wilayah ini sehingga kelamaan semakin bertambah banyak.


Waaster Kasad Mabes TNI AD, Brigjen TNI Sugiono saat meninjau langsung pembangunan.

“Hal itulah yang kemudian menimbulkan potensi bencana alam, baik banjir maupun tanah longsor. Karena itu warga kemudian berkomitmen untuk tak membuang sampah di tempat tersebut agar kelestarian alam tetap tetap terjaga,” kata Dariyo Gistanto.

Ia dan perangkat kampung lainnya terus menggugah kesadaran masyarkat untuk selalu bersahabat dan hidup berdampingan dengan sungai. Cara yang paling mudah menurutnya yakni dengan tak membuang limbah apapun di sungai.

Awalnya memang sulit menumbuhkan kesadaran itu, namun dengan dibantu Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 10 Wirobrajan akhirnya masyarakat perlahan meninggalkan kebiasaan buruk membuang sampah di sungai. Justru setelah itu warga memiliki kesadaran sendiri tanpa harus diingatkan untuk tak membuang sampah di sungai.

“Dahulu kesannya jorok karena banyak sampah dan bau. Bersama prajurit TNI kami membersihkan dan melakukan pembangunan talud demi keselamatan warga kami yang ada di sekitar bantaran,” imbuhnya.

Kehadiran TNI Membawa Perubahan

Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas TMMD Reguler ke-111 Kodim 0734 Yogyakata hadir membawa perubahan di tengah masyarakat. Selain membangun secara fisik, mental maupun spiritual warga juga turut dibangun.

“Kesadaran inilah yang harus terus dibangun. Bagaimana mencintai lingkungan dan memperlakukannya dengan baik sehingga alam nantinya juga akan memberikan manfaat baik bagi manusia,” tegas Komandan Kodim (Dandim) 0734 Yogyakarta, Letkol (Inf) Erwin Ekagita Yuana.

Ia mengatakan, letaknya yang berdekatan dengan Sungai Winongo membuat Kecamatan Wirobrajan rawan akan bencana alam khususnya banjir dan tanah longsor. Kesiapan masyarakat untuk menjadi kampung tanggung terus dilakukan agar nantinya Bugisan selalu siap menghadapi berbagai ancaman yang akan terjadi.

Dalam mewujudkan kesiapan itu, selain membangun talud juga dilakukan pula pemeliharaan Saluran Air Hujan (SAH) di Wirobrajan. Saluran ini disempurnakan dan kini memiliki panjang total 270 meter dengan jumlah 34 unit SAH.

Hasil akhir pembangunan talud anak Sungai Winongo. 

Sebelumnya kawasan ini menjadi langganan banjir karena air hujan yang turun tidak terbuang dengan baik sehingga melahirkan genangan. Dengan pemeliharaan yang dilakukan prajurit dan rakyat kini SAH di kawasan Wirobrajan dapat menampung dan membuang air hujan walau saat debit air sedang besar.

“Diharapkan hasil TMMD ini dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Untuk progaram fisik yang telah dihasilkan hendaknya dapat dipelihara bersama untuk kepentingan masyarakat,” tegas Erwin Ekagita Yuana. (Ivan Aditya)

BERITA REKOMENDASI