Perkembangan Museum Bergantung Pada Sinergi Banyak Pihak

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Majunya perkembangan museum dan cagar budaya menjadi cermin kebesaran bangsa. Setiap masyarakat harus ikut merawat peninggalan-peninggalan masa lalu.  sinergi antara empat aspek dalam masyarakat, seperti budayawan atau akademisi, pebisnis, komunitas dan pemerintah perlu dilakukan agar museum dan cagar budaya dapat terawat dengan baik.

 

"Kalau dibebankan di Dinas Kebudayaan saja saya rasa sulit," ujar Anggota Dewan Kebudayaan DIY, Prijo Mustiko dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema 'Cagar Budaya dan Museum dalam Strategi Kebudayaan Yogyakarta: Prinsip, Strategi dan Aksi', Selasa (20/9) di Pendopo Gamelan.

Baginya, setiap masyarakat yang berinisiatif melindungi cagar budaya akan mengalami peningkatan kesejahteraan secara tidak langsung. Ia membeberkan, jika masyarakat melihat dan memahami warisan budaya akan timbul rasa peduli untuk merawatnya. Perawatan tersebut memunculkan rasa ketertarikan masyarakat lain untuk menikmati cagar budaya. Dari siklus tersebut diharapkan setiap warga mau memanfaatkan keberadaan warisan guna mendongkrak kesejahteraan.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemeliharaan cagar budaya, Prijo mengusulkan perbanyak 'living museum'. 'Living Museum' diharapkan mampu menunjukkan suatu proses industri kreatif, baik secara teknik pembuatan maupun pengembangan teknologinya, seperti Kotagede.

"Ketika orang-orang berkunjung ke Kotagede, mereka juga bisa berinteraksi dengan para pengrajin," ungkapnya. Ia juga menyarankan resep pengelolaan 'living museum' agar selalu menarik pengunjung dengan 3S-2T, yaitu 'Sight', 'Smell', 'Sound', 'Taste' dan 'Touch'.

Senada dengan Prijo, Duta Museum DIY 2016 yang baru saja terpilih, Kuncoro Sejati mengungkapkan Ikatan Duta Museum DIY turut berpartisipasi meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat menikmati cagar budaya dan museum. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membuat desain promosi semenarik mungkin berupa booklet ataupun pamflet.

"Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa mengirim pesan ke dalam hati masyarakat, sehingga mereka tergugah untuk menikmati warisan budaya," bebernya. (*-1)

BERITA REKOMENDASI