Pernah Dicurigai Polisi, Wiyono Jual Sepeda Onthel Rp 16,5 Juta

SELAMA lebih dari 50 tahun berjualan sepeda bekas, berbagai kisah pun dirasakan Wiyono. Ia pernah mendapatkan pembeli yang dengan enteng membeli sebuah sepeda yang ia harga Rp 16,5 juta. Wiyono juga pernah bermasalah dengan polisi karena diduga menjual barang curian.

“Paling mahal saya sempat menjual Gazelle seri 11 tahun 2014 seharga Rp 16,5 juta, dibeli orang Pontianak. Tapi dulu kenangan buruk juga ada saat didatangi polisi karena ada laporan kehilangan sepeda. Setelah ditelusuri ternyata bukan, saat dicoba kuncinya beda, akhirnya minta maaf,” ungkap Wiyono yang mengatakan anaknya juga meneruskan usaha jualan sepeda bekas di Gappsta. 

Kisah sedih bagi pedagang sepeda Gappsta terjadi tahun 1966. Tahun itu pemerintah melakukan redenominasi atau penyederhanaan pecahan mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan mengurangi digit tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Namun program itu gagal sehingga yang terjadi adalah sanering yaitu pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai mata uang.
  
Cerita masa-masa sulit yang secara tak langsung mengakhiri masa kejayaan sepeda onthel tersebut dikisahkan salah satu pedagang Pasar Sepeda Gappsta, Tukijan (80). 

Mbah Tukijan yang menjadi saksi hidup perjalanan jual beli sepeda di Yogyakarta selama 50 tahun terakhir pun menyampaikan sulitnya menjadi pedagang di saat-saat itu. 

“Sebenarnya sepeda sedang memasuki masa jaya karena sepeda motor terutama dari Jepang belum masuk ke Indonesia. Tapi karena krisis dan rupiah tidak ada nilainya, padahal barang dagangan tidak ikut turun yasudah kami para pedagang yang ikut menanggung dampaknya,” kenang Mbah Tukijan tersenyum. 

Kondisi yang tak menentu bagi para pedagang sepeda di Gappsta sendiri berlangsung hingga 20 tahun usai tahun 1966. Pada era 80-an, kondisi pun berangsur membaik di mana perekonomian negara mulai stabil dan daya beli masyarakat meningkat. 

“Orang beli sepeda lagi tapi ya tambah saingan karena motor-motor Jepang sudah masuk dan mereka bisa beli kredit. Tantangan besar lagi bagi kami pedagang sepeda bekas, meski tetap saja ada pembeli,” sambung kakek asal Dongkelan Bantul ini. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI