Pertamina Bantah Kurangi Jatah Elpiji 3 Kg

YOGYA, KRJOGJA.com – PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) IV Wilayah Jawa Tengah dan DIY terus menggencarkan kampanye penggunaan gas bersubsidi atau elpiji 3 kg kepada masyarakat, tidak terkecuali di wilayah DIY. Hal itu dilakukan setelah mencuat isu kelangkaan gas melon di beberapa wilayah di DIY akibat ulah spekulan sehingga membuat masyarakat panik beberapa waktu ini.

Sales Area Manager Pertamina MOR IV Cabang Yogyakarta Pande Made Andi mengatakan, biasanya yang membuat isu-isu kelangkaan, kekosongan hingga pengurangan kuota gas bersubsidi adalah spekulan. Akibat ulah spekulan inilah yang membuat masyarakat panik dan pembelian meningkat. Padahal terkait pengurangan kuota, itu tidaklah benar karena alokasi kuota elpiji 3 kg justru bertambah setiap tahunnya.

"Tidak benar ada pengurangan kota gas melon, yang betul alokasi kuotanya semakin naik setiap tahunnya sekitar 4 persen. Contohnya konsumsi elpiji 3 Kg di DIY yang rata-rata mencapai 120.000 tabung perhari tahun ini naik dibandingkan tahun sebelumnya yang konsumsi harian rata-ratanya mencapai 110 ribu pertabung," ujar Pande di Yogyakarta, Minggu (13/10).

Sales Branch Manager (SBM) Pertamina MOR IV Kodya Yogyakarta Ali Akbar Felayati menambahkan, alasan terkesan agak sulit mendapatkan gas melon karena penggunaannya memang sudah tidak sesuai dengan peruntukkannya alias tidak tepat sasaran. Elpiji 3 kg ini diperuntukkan masyarakat miskin, usaha mikro bukan usaha kecil dan menengah atau usaha besar alias usaha kecil dengan ketentuan penghasilan di bawah Rp 300 juta pertahun atau asetnya di luar tanah dan bangunan Rp 50 juta.

Disamping itu, gas melon juga dapat digunakan petani dan nelayan yang telah mendapatkan paket konversi dari Pemerintah. "Kita bicara di rumah makan dan ternak ayam itu kan tidak terkover dalam pengguna elpiji 3 kg, tetapi mereka menggunakannya. Akhirnya malah banyak ternak ayam yang pakai gas melon di DIY. Kita juga telah melakukan sidak di beberapa rumah makan di Sleman dan Bantul yang ternyata malah menggunakan gas bersubsidi, sehingga kami berikan pembinaan secara bertahap," tutur Ali.

Pertamina mengembalikan kepada masyarakat sendiri agar sadar tidak menggunakan gas melon yang bukan haknya, terlebih disparitas harganya memang agak jauh antara elpiji 3 kg dengan elpiji nonsubsidi. Sehingga godaan untuk menggunakan gas bersubsidi pasti besar dan sulit dihindari mengingat deviasi cukup jauh dan faktor perhitungan usaha. (Ira)

BERITA REKOMENDASI