Pertumbuhan Ekonomi DIY Tumbuh Solid

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Ekonomi DIY triwulan II 2019 masih tumbuh solid didorong aktivitas konstruksi dan masih tumbuh dengan baik, walaupun cenderung melambat karena perlambatan investasi dan penurunan kinerja industri. Geliat konstruksi masih menopang kinerja ekonomi DIY dengan andil pertumbuhan tertinggi sebesar 1,83 persen pada triwulan II 2019.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan mengatakan, meskipun konstruksi masih tumbuh 18.9 persen, namun pertumbuhan cenderung melambat dibanding triwulan sebelumnya. Perekonomian DIY triwulan II 2019 dibanding triwulan II 2018 (yoy) tumbuh 6,80 persen, sedikit lebih lambat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,51 persen namun lebih tinggi dibanding triwulan II 2018 yang tumbuh 5,92 persen.

Andil terbesar pertumbuhan ekonomi DIY triwulan II 2019 (yoy) diberikan lapangan usaha kontruksi yaitu sebesar 1,83 persen. Dari sisi pengeluaran, andil pertumbuhan ekonomi DIY triwulan II 2019 (yoy) disumbangkan oleh komponen pembentukan modal tetap bruto, diikuti pengeluaran konsumsi rumah tangga.

"Driver utama pertumbuhan DIY masih didominasi konsumsi rumah tangga. Untuk ke depan dalam jangka menengah kita harus menjaga agar pertumbuhan konsumsi rumah tangga tetap tinggi. Namun karena sifatnya yang sangat rentan maka sustainabilitasnya, dalam jangka panjang kita harus mendorong sektor lain yaitu sektor non konsumsi menjadi driver ekonomi DIY," ungkap Hilman.

Hilman menyampaikan, industri jasa perlu lebih didukung di DIY, antara lain pariwisata dan industri kreatif. Model pengembangan Community based tourism perlu didorong yang juga hal ini akan mendorong inklusivitas. Industri kreatif perlu didorong pengembangannya dengan berbagai upaya, baik melalu regulasi maupun menciptakan ekosistemnya, antara lain melakukan zonasi wilayah kreativitas (creativity based).

"Pertumbuhan ekonomi DIY secara makro apabila dicermati memang masih disumbang pekerjaan konstruksi seperti pembangunan bandara baru di Kulonprogo, underpass dan lain-lainnya sampai triwulan II 2019. Sedangkan indikator lainnya yang bisa memberikan andil menyumbang pertumbuhan maka korelasinya harus dicermati lagi," Sekda DIY Gatot Saptadi.

Gatot mengungkapkan pertumbuhan ekonomi DIY yang tinggi memang tidak sebanding dengan angka kemiskinan DIY yang masih tinggi. Diakuinya meski secara angka perekonomian di DIY tumbuh, tetapi ternyata belum menyentuh segmen-segmen lainnnya, karena yang merasakan pertumbuhan tersebut masih sektor tertentu seperti konstruksi maka hanya melibatkan yang usaha konstruksi.

" Tidak bisa difokuskan pertumbuhan ekonomi DIY bagus dan merata pada sektor lainnya. Sehingga semua sektor atau segmen selain konstruksi di DIY harus bergerak terutama aktivitas lainnya yang bisa mengisi paska konstruksi," tandasnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI