Pesan ‘Ngeri’ KDRT dari Film My Father’s Room

Editor: KRjogja/Gus

VISUALISASI animasi menggambarkan seorang anak perempuan berjalan pulang dari sekolah menerobos hujan. Tidak ada percakapan mendetail dalam animasi tersebut. Keseluruhan animasi pun digambarkan dengan kesan sketsa pensil sederhana. Secara sederhana, si anak perempuan digambarkan sedang berada di ruangannya ketika sang ayah pulang dalam kondisi mabuk. Si anak segera menutup pintu kamar dan bersembunyi sebelum adegan-adegan kekerasan sang ayah kepada sang ibu disajikan ke hadapan penonton.

Fokus dikembalikan kepada si anak perempuan tadi yang meringkuk di bawah meja; ia menggambar dinding di bawah mejanya untuk mengalihkan perhatian sembari mengutuk ayahnya. Menit demi menit berlalu, si anak bertumbuh dewasa. Penonton disajikan tontonan pertumbuhan si anak menjadi seorang wanita dewasa. Ia disandingkan dengan adegan pernikahan oranglain yang bahagia dan gambaran pernikahannya sendiri yang gagal. Ia disajikan pula dengan berbagai macam isu-isu sosial yang harus dihadapinya akibat trauma.
Dalam animasi tersebut, setiap unsur kehidupan sosial yang seharusnya ia miliki ditutup salam berbagai kardus dan disegel rapi dengan pita perekat. Si anak perempuan yang sudah dewasa membawa trauma masa kecilnya hingga ia besar.

Tidak semua orang mengerti rasanya menjadi bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Berkesempatan untuk menyaksikan KDRT secara langsung saja bukan menjadi suatu hal yang biasa dialami oleh khalayak banyak. Semua orang bisa jadi sama-sama paham dan setuju kalau KDRT bukan lah suatu hal yang menyenangkan tapi tidak semua orang paham betul bagaimana rasanya menjadi bagian dari kekerasan dalam rumah tangga.

Animasi yang menggambarkan cerita anak perempuan tadi adalah film pendek asal Korea karya Nari Jang berjudul My Father’s Room. Film itu mengajak penonton menilik ke balik sudut pandang seorang anak perempuan korban kekerasan rumah tangga dalam bentuk animasi abu-abu. Penonton diberikan sajian alur hidup si anak perempuan yang harus menyaksikan kekerasan yang dilakukan ayahnya kepada ibunya di masa-masa kecil.

Film yang sempat diputar pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada Senin (4/12/2017) sore ini memaksa penonton untuk menilik KDRT dari sisi anak-anak yang harus menjadi saksinya. Penonton diberi pengertian mengenai betapa peristiwa tersebut adalah suatu hal yang akan dibawa oleh anak-anak hingga mereka dewasa.

Dalam balutan animasi yang tidak biasa, My Father’s Room menamparkan kepada penonton kenyataan yang bisa saja dialami oleh anak-anak kita kelak apabila terjadi KDRT dalam rumah tangga. (Rahina Dyah Adani)

BERITA REKOMENDASI