Polemik Gerai Es Krim Tempo Gelato, Begini Kesaksian Dua Pihak yang Berseteru

Editor: KRjogja/Gus

Ema menceritakan dengan detail bagaimana ia kemudian membuat UD Bangun Jaya Abadi dan mendapatkan lokasi kontrak di Jalan Prawirotaman yang menjadi outlet pertama Tempo Gelato. Ema juga menceritakan bawasanya kala itu Pascal yang ingin memberikan modal untuk membuka gerai es krim merasa butuh suntikan dana karena adanya kekurangan.

“Lalu Pascal ini meminjam uang pada Rudi untuk menambahkan modal, tapi yang punya kesepakatan Pascal dan Rudi. Saya, Ema fokus pada menjalankan seperti yang Pascal minta pada saya, ya detail operasional sehari-hari sampai perijinan dan sebagainya. Juga kami, saya dengan Pascal membuat dan mencari semua interior,” sambung dia.

Usaha gerai pertama tersebut ternyata berkembang cukup pesat dengan progres sangat baik. Es krim Tempo Gelato yang diakui diracik oleh Pascal dengan bantuan Ema dan pegawai di dapur, disukai banyak orang dan berhasil menjadi salah satu destinasi kuliner Yogyakarta.

Alhasil Ema dan Pascal memutuskan untuk membuka gerai kedua di Jalan Kaliurang (timur jalan) dengan payung hukum UD Bangun Jaya Abadi, sama-sama dimiliki Ema namun dengan nomor registrasi berbeda dari yang pertama karena aturan UD tak bisa bercabang.

“Dari situ ada uang masuk saya kumpulkan-kumpulkan sampai bisa buat cabang satu lagi. Dua UD itu atasnama saya semua Bangun Jaya Abadi, nama sama tapi nomor registrasi beda. Itu sewa tanah di Jalan Kaliurang juga atasnama Pascal seperti di Prawirotaman. Pertimbangan Pascal, kalau ternyata usaha tidak baik, saya tak menanggung beban termasuk nantinya dengan uang dari Pak Rudi itu, untuk yang Prawirotaman,” ungkapnya lagi.

Ema juga menceritakan bawasanya Pascal sudah mengembalikan uang pinjaman awal, termasuk dengan nilai lebih sebagai bunga. “Sudah dikembalikan oleh Pascal, bahkan termasuk lebihannya karena kan mungkin ada bunga begitu,” sambungnya lagi.

Namun begitu pada tahun 2018, Pascal, Rudi dan Ema sepakat membuat sebuah PT PMA bernama Tempo Gelato Indonesia. Menurut Ema, ia sendiri yang berusaha mengurus perijinan termasuk hal-hal lainnya dan membenarkan menaruh 10 persen bagian dalam modal awal.

Hanya saja, ijin PMA tersebut tidak bisa didapatkan hingga akhirnya diputuskan tidak berjalan sampai saat ini. Uang modal yang disertakan ketiganya pun dikatakan Ema masih beku di Bank Niaga, tercatat seluruhnya oleh bank.

“Punya Pak Rudi sudah diambil sebenarnya, tapi masih ada punya Pak Pascal yang beku di Niaga. Sementara modal saya benar 10 persen itu digunakan lebih untuk operasional seperti beli mobil operasional dan hal-hal lainnya. Nah, akhirnya PT tersebut tidak lolos ijin karena lokasi yang berada di luar kawasan industri, serta beberapa hal yang belum bisa dipenuhi,” lanjutnya lagi.

Pihak Rudi Festraets diketahui menaruh kekecewaan pada saat itu, di mana ia merasa per bulan Februari 2018, ia tak lagi mendapat pembagian profit keuntungan bulanan seperti pada tahun 2015-2017. Rudi juga menyampaikan kekecewaan karena Ema bersama Pascal justru membuka gerai baru di Jalan Tamansiswa.

Rudi sempat menuliskan curahan hatinya, karena kecewa dengan sosok Ema yang disebut berangkat dari sekretaris perusahaan yang tak punya apa-apa dan memanfaatkan situasi dengan mendaftarkan merk paten Tempo Gelato atasnama pribadi.

“Ketika saya mendengar bahwa mereka telah menutup outlet Tempo Gelato original pertama di Prawirotaman nomor 43, lima tahun sebelum kontrak selesai, hal ini sangat jelas bahwa mereka (Ema S dan Pascal B rekan di PT PMA Gelato Indonesia) menginginkan saya keluar dan mengambil hak saya dari awal proyek. Saya berjuang selama dua tahun dengan pengacara saya untuk menuntutnya atas dugaan penggelapan dan penipuan,” terang Rudi dalam keterangan tertulis pada KRjogja.com, Rabu (17/2/2021).

Di sisi lain, kembali Ema menjelaskan bawasanya PT PMA Tempo Gelato Indonesia yang dibentuk tiga orang itu belum berjalan sama sekali karena tidak adanya perijinan dari pemerintah pusat (jumlah modal kurang dan lokasi bukan di kawasan industri). Ema juga menjelaskan penutupan gerai pertama Tempo Gelato karena dinilai kurangnya ruang parkir serta tidak adanya ijin usaha di lokasi ikonik perdana itu.

“Kalau mau dapat ijin, harus mundur bangunannya lima meter jadi ya serba sulit. Kalau lokasi parkir, awalnya saya dapat di sebelah Hotel Pandanaran (selatan jalan) karena akhirnya pemiliknya mau menyewakan setelah saya incar lama untuk parkiran. Tapi Pascal meminta agar dibuat sekalian bangunan, ada parkir luas dan bisa nyaman buat bangunan. Semua itu kami cari sendiri dan Pascal yang desain, seperti sejak awal dia yang punya ide fasad Tempo Gelato harus seperti ini seperti itu, ya yang sekarang ada, jam dan batu bata khas itu ya Pascal,” tandas Ema.

BERITA REKOMENDASI