Polresta Yogyakarta Gagalkan Perdagangan 10 Satwa Dilindungi Via Online

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sat Reskrim Polresta Yogyakarta berhasil mengungkap dan meringkus pelaku perdagangan satwa dilindungi yang diperdagangan melalui medsos.Tersangka Rd (27) warga Karangturi Semarang Jawa Tengah diringkus di rumahnya.

“Barang Bukti berupa 7 ekor kukang Jawa (Nycticebus Javanicus), 1 ekor binturong (Arctictis Binturong), 1 ekor buaya muara ukuran panjang 40 cm (Crocodylus Porosus) dan 1 ekor buaya Irian ukuran panjang 75 cm (Crocodylus Novaeguineae) yang akan diperjualbelikan dalam kondisi hidup ditemukan saat penggeledahan di rumah tersangka ditemukan,” ungkap Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Andhyka Donny Hendrawan saat konferensi pers pengungkapan penjualan satwa dilindungi di Gembira Loka (GL) Zoo, Jumat (22/10/2021).

Andhyka menyebutkan tersangka dijerat pelanggaran Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 84 ayat (2) KUHAP. Pasal tersebut mengatur pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Ia mengungkapkan pelaku menjual satwa dilindungi melalui Facebook pada grup Grup Ingon-Ingon Semarang (GIIS). Kronologi bermula dari patroli cyber anggota unit 5 Sat Reskrim Polresta Yogyakarta menemukan akun Facebook milik Rd yang mengiklankan satwa dilindungi, Jumat (15/10/2021).

Setelah dilakukan profiling diketahui keberadaan tersangka di Semarang, Jawa Tengah. Dipimpin Kanit 5 Sat Reskrim Polresta Yogya, Iptu Dody Wahyu Kurniawan, bersama anggota dengan didampingi petugas BKSDA Yogyakarta kemudian menuju lokasi keberadaan tersangka.

“Dari tumah tersangka didapatkan hewan satwa dilindungi.Setelah itu pelaku dan barang bukti kami amankan,” ungkapnya.

Saat ini barang bukti hewan-hewan yang dilindungi tersebut dititipkan di bagian konservasi GL Zoo. Satwa tersebut akan menjalani perawatan dan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kelayakan bila kembali dilepasliarkan di alam.

Manajer Konservasi GL Zoo, Josephine Vanda Tirtayani mengungkapkan 7 kukang tersebut dilihat dari bulu dan aktivitas masih tergolong sehat. Hanya saja gigi, terutama taring mereka semuanya telah dipotong bahkan ada yang sampai infeksi.

“Karena taring kukang beracun dan biasanya oleh penjual dipotong supaya tidak menggigit. Sebelum dilepasliarkan, gigi atau taring kukang akan kita renovasi kembali agar mereka bisa bertahan di alam liar,” ungkap Vanda.

Vanda juga sudah berkomunikasi dengan pihak di Bogor yang akan melepaskan kembali kukang tersebut ke habitatnya, setelah proses hukum yang berjalan selesai. “Sementara masih kita rawat dulu,” ucapnya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 BKSDA Yogyakarta, Untung Suripto menyampaikan apresiasi mendalam terkait pengungkapan perdagangan online satwa liar. BKSDA merasa sangat terbantu dengan adanya operasi penangkan ini sehingga keberadaan satwa dilindungi dapat tetap terjaga dan tak diperjualbelikan.

“Perdagangan online masih terjadi selain untuk peliharaan ada juga yang dikonsumsi untuk obat. Konservasi dengan penegakan hukum harus jalan bersama, karena satwa yang dilindungi adalah kekayaan alam yang harus dijaga dari kepunahan,” tegasnya. (Vin)

BERITA REKOMENDASI