Ponpes di DIY Jangan Gegabah Datangkan Santri

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Munculnya kasus santri pondok pesantren (ponpes) di DIY yang terpapar virus Korona menimbulkan goncangan tersendiri. Sebab institusi pendidikan, salah satunya ponpes termasuk yang paling terdampak dan rawan terjadinya pandemi Covid-19.

Kasus penyebaran Covid-19 di salah satu ponpes di Sleman belum lama ini seharusnya menjadi pembelajaran bersama semua pihak agar lebih waspada dan berhati-hati. Pihak ponpes di DIY sendiri menyimpulkan tidak bisa gegabah mendatangkan santri ke pesantren dalam menghadapi pandemi Covid-19 tersebut.

“Kami telah mendapatkan izin menyelenggarakan pembelajaran tatap muka kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY dan arahan dari Gubernur DIY. Kami pun sudah memastikan kesiapan ponpes yang luar biasa guna membuka pembelajaran tata muka bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY dengan melakukan tinjuan langsung sebelumnya. Dari 230-an ponpes di DIY, didapatkan 30 ponpes yang layak dan telah mempunyai Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pesantren,” ujar Ketua Rabithah Ma’ahidil Islamiyah (RMI) DIY KH Fairuzi Afiq Dalhar dalam Editorial KR dipandu Wapemred KR Ahmad Luthfie di channel Youtube Kedaulatan Rakyat TV.

Pengasuh Ponpes Nurussalam Putri Al-Munawwir Krapyak yang disapa Gus Uzi ini menyampaikan sebanyak 30 ponpes di DIY yang dinyatakan siap dan layak menyelenggarakan pembelajaran luar jaringan (luring) dinilai telah memenuhi sarana dan prasarana atau fasilitas sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang dipersyaratkan di lingkungan Ponpes. Antara lain mempunyai tempat karantina tersendiri yang lebar, menyediakan tempat cuci tangan, mempunyai ruang pemeriksaan, memisahkan pintu masuk dan keluar hingga penyesuaian kapasitas kamar santri yang bervariatif.

“RMI DIY sendiri sangat mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dari pemerintah sehingga diharapkan para santri yang akan masuk kembali ke ponpes harus dikarantina terlebih dahulu di rumah dan membawa surat keterangan dari Ketua RT. Selanjutnya santri yang akan berangkat ke ponpes tidak boleh memakai kendaran umum dan membawa hasil tes diagnostik cepat atau Rapid Diagnostic Test (RDT), lalu langsung di cek suhu tubuh dan penyemprotan desinfektan untuk peralatan yang dibawa baru boleh masuk ke pesantren. Mereka tetap dikarantina di ruang tersendiri tidak lantas disatukan anak-anak yang lama,” terangnya.

Terkait munculnya kasus santri yang positif Covid-19 di Sleman, Gus Uzi mengaku telah mendapatkan informasi dari ponpes yang bersangkutan. Sebelumnya santri tersebut mengeluh indra penciumannya berkurang dengan suhu tubuh normal, namun dirinya tidak mengetahui itu termasuk tanda-tanda gejala penyakit Covid-19. Kemudian keluhan santri tersebut dilaporkan kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pesantren lalu di skrining akhirnya munculnya kasus tersebut.

Karena santri tersebut tidak mengetahui gejalanya dan tidak disertai penyakit penyerta (komorbit) maka dengan cepat menulari santri-santri lainnya. Dari kasus santri yang positif Covid-19 tersebut setidaknya lebih dari setengahnya sudah dinyatakan sembuh karena gejala ringan atau OTG saat ini.

“Berkaca dari kasus tersebut, pihak ponpes di DIY ada yang langsung menghentikan kedatangan santri terlebih dahulu sambil melihat perkembangan, tetapi tetap ada ponpes yang tetap menerima kedatangan santri secara bertahap. Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pesantren pun memperketat pengawasan terutama dalam pelaksanaan protokol kesehatan seperti wajib memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak fisik dan tidak berkerumun. Kita ketat dan keras tetapi para santri tetap diberikan semangat dengan humor, doa dan berolahraga demi imun,” jelasnya.

Sementara itu, Gus Uzi menambahkan bagi ponpes di DIY yang belum membuka pembelajaran tatap muka dan masih 100 persen menerapkan pembelajaran dalam jaringan (daring) juga harus dipantau dan dilaksanakan sebaik-baiknya. Ponpes di DIY mulai diarahkan beradaptasi dengan kebiasaan baru karena tidak tahu kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 hingga pola hidup sehat dan bersih.

“Kami harapkan suasana pesantren tidak gaduh dengan kejadian tersebut. Kami minta pesantren tetap mempersiapkan semua sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam menghadapi adaptasi kebiasaan baru. Pemerintah juga kami harapkan bisa langsung memberikan edukasi dan sosialisasi langsung ke bawah,” imbuh Gus Uzi. (Ira)

 

BERITA REKOMENDASI