Potensi Bahaya Merapi Masih Tinggi, Ini Sebabnya

YOGYA, KRJOGJA.com – Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran pada Minggu (31/1) pukul 15.39 WIB. Awan panas tersebut tercatat di seismogram dengan amplitudo 25 mm dan durasi 61 detik. Jarak luncur diperkirakan 600 meter ke arah barat daya atau ke hulu Kali Krasak dan Boyong.

Sebelumnya pada periode pukul 00.00-06.00 WIB teramati 5 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimal 500 meter ke arah barat daya. Sedangkan pukul 06.00-12.00 WIB teramati 8 kali guguran lava dengan jarak luncur 300-400 meter ke arah barat daya (hulu Kali Krasak dan Boyong). Hujan juga kembali terjadi di sekitar puncak Gunung Merapi pukul 14.07—15.21 WIB dengan total curah hujan 17 mm. Masyarakat diimbau untuk mengantisipasi bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Dr Hanik Humaida mengatakan, saat ini aktivitas seismik, deformasi dan gas menurun signifikan, kecuali guguran yang masih tinggi. Kegempaan internal hanya 12 perhari, deformasi sudah berhenti (1 mm/hari) dan gas vulkanik CO2 saat ini 550 ppm atau dalam tren menurun. “Untuk kejadian guguran masih tinggi, dominan bersumber di lokasi erupsi,” terang Hanik dalam keterangan resminya, Minggu (31/1).

BERITA REKOMENDASI