Pro Kontra PJJ, Belum Optimal tapi Lebih Aman

YOGYA (KR) – Meski pro dan kontra, pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui online dinilai paling efektif diterapkan, meski masih banyak kekurangan. Sehingga hasilnya belum optimal. Namun demikian, model tersebut paling aman bagi siswa maupun guru ketika terjadi wabah Covid-19.

Demikian dikemukakan Pakar Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Suyanto dalam bincang editorial bersama Redaktur Pelaksana KR, Primaswolo Sudjono yang disiarkan di channel YouTube di Kedaulatan Rakyat TV, Senin (5/10).

Sejauh ini, menurut Prof Suyanto, evaluasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) terus dilakukan oleh pemerintah. Meski sejumlah evaluasi dan penyempurnaan terus dilakukan. “Dalam menyikapi hasil evaluasi PJJ pemerintah menghadapi persoalan yang tidak mudah. Khususnya berkaitan dengan sejumlah persoalan yang mewarnai pelaksanaan PJJ. Misalnya saja siswa mengeluhkan tidak ada kuota saat PJJ, namun begitu kuota diberikan, ternyata tidak memecahkan masalah. Setelah kuota ada ternyata muncul masalah lain, jadi PJJ atau daring itu tidak sekadar masalah kuota saja. Selain itu tidak setiap keluarga memiliki gadget, selain itu jaringan juga sering jadi masalah,” kata Prof Suyanto.

Selain itu, dalam hal capaian hasil pembelajaran, model daring hasilnya tidak bisa maksimal. Meski begitu guru atau orangtua tidak perlu memaksakan diri, karena dikhawatirkan bisa membebani siswa. Supaya hal itu tidak terjadi perlu kreativitas dan inovasi guru, supaya siswa bisa belajar dengan nyaman dan materi mudah dipahami.

“Menyikapi pandemi Covid dan berbagai persoalan dalam pembelajaran daring. semua pihak harus bersabar dan berpikir konstektual. Artinya melihat secara kondisional bagaimana perkembangan Covid-19 di daerah. Daerah merah yang jadi prioritas bukan capaian pembelajaran tapi keselamatan. Oleh karena harus berpikir konstektual rasional dan semua orang harus bersabar,” tegas Suyanto.

Saat dimintai tanggapan soal adanya usulan tentang dimulainya pembelajaran tatap muka di sekolah. Guru besar UNY itu menjelaskan, sebelum nantinya pembelajaran tatap muka itu benar-benar diterapkan, butuh kecermatan perencanaan. Karena seandainya kebijakan itu dilaksanakan ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh sekolah, supaya tidak terjadi penularan Covid-19. Salah satunya selain sekolah berada di zona hijau dan dapat rekomendasi dari Pemda bahwa sekolah itu benar-benar aman. Tentunya semua itu harus tetap mengedepankan protokol kesehatan.

“Dalam masa pandemi seperti sekarang guru dituntut lebih kreatif, inovatif dan memiliki komitmen. Salah satu peran yang terpenting adalah mengembangkan karakter. Karena saat pandemi seperti sekarang, kalau berbicara pendidikan kualitasnya harus meningkat rasanya tidak rasional,”ungkapnya. (Ria/Ira)

BERITA REKOMENDASI