Prof Ali Ghufron: Serba Disrupsi, Masyarakat Dididik Media

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Era revolusi industri 4.0 sebenarnya serba disrupsi, yakni perubahan berbagai sektor akibat digitalisasi.

 

"Era disrupsi, masyarakat dididik oleh media. Di era industri 4.0 semua serba disrupsi sehingga terjadi perubahan di luar pikiran manusia. Disrupsi semua berubah, semua dapat direkonstruksi," kata Prof Dr Ali Ghufron Mukti MSc PhD, Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Iptek (SDI) dan Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam orasi ilmiah Milad ke-59 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di kampus 1, Jalan Kapas, Semaki, Yogya, Sabtu (21/12/2019).

Dalam sidang terbuka  disampaikan pula laporan tahunan oleh Rektor UAD Dr Muchlas MT. Dalam momentum tersebut UAD memberi penghargaan kepada dosen berprestasi dan karyawan yang telah mengabdi 20-30 tahun.

Menurut Ali Ghufron, era revolusi industri 4.0 serba distruktif,  bisa juga dikriminatif. Maka masyarakat seharusnya secara bijak memilah-memilih informasi yang bisa dipercaya, tidak memakan informasi hoaks. Menjadi generasi milenial, memiliki Sumber Daya Iptek secara cerdas sangat dibutuhkan. "Pejabat tidak harus yang senior dari segi usia dan pengalaman kerja. Sekarang banyak pejabat   yang muda-muda dan sangat milenial, sangat menguasai iptek," ujarnya.

Dalam pengamatan Ali Ghufron, sekarang ini masyarakat tidak hanya dididik media, bisa diarahkan dan didekte. Masyarakat mau kemana dan mau apa bisa diframe oleh media.

Ali Ghufron menegaskan, dalam era serba digital, masyarakat bisa kehilangan identitas. Meski demikian, media berkeadaban untuk mewujudkan masyarakat berpendidikan sangat dibutuhkan. Intinya masyarakat kemana, masyarakat mau jadi apa bisa digerakkan media. "Orang biasa bisa jadi tenar atau sebaliknya, orang tenar bisa jadi biasa," katanya.

Ali Ghufron menyinggung, pendidikan tinggi tidak hanya mendidik SDM unggul, perlu juga memperhatikan anak muda yang bertalenta. "Minat, bakat, kreativitas dan inovatif perlu diberi tempat. Perlu manajemen talenta," harapnya.

Sedangkan Dr Muchlas MT dalam laporan tahunan  mengatakan, UAD telah menetapkan visinya menjadi perguruan tinggi diakui secara internasional berdasarkan nilai Islam. "Hal ini mengandung makna, UAD harus jadi perguruan tinggi yang unggul dan mampu beradaptasi dalam perubahan global secara berkelanjutan menghasilkan lulusan berdaya saing tinggi," ujarnya.
Rektor UAD dalam laporan tahunan, menyampaikan laporan pertanggungjawaban berisi kinerja yang telah dicapai seluruh warga UAD dalam memberikan pelayanan bidang Catur Darma Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).

Perkembangan menyangkut kelembagaan terkini, peningkatan akreditasi, peningkatan IPK, pengabdian kepada masyarakat, peningkatan implementasi kerja sama, daya dukung sistem informasi, respons stakeholder dan peningkatan kesejahteraan.
"Laporan ini sebagai bentuk pertanggungjawaban kinerja, sekaligus rasa syukur telah mendapat kepercayaan dari masyarakat," ucapnya. (Jay).

 

 

UAD

BERITA REKOMENDASI