Profesionalisme Diperlukan Polisi Lalu Lintas

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Keberadaan polisi lalu lintas saat bertugas di lapangan harus benar-benar mencerminkan secara riil bahwa polisi merupakan pelayan dan pengayom masyarakat. Karena itu, kemampuan menjalankan tugas dan fungsi harus dikuasahi agar masyarakat merasa nyaman dan aman ketika berhadapan dengan petugas kepolisian, dalam hal ini polisi lalu lintas. Terkait hal itu, pilihan dan penempatan anggota polisi lalu lintas di sejumlah titik, harus didasarkan pada kemampuan teknis di bidang lalu lintas.

Penempatan petugas polisi lalu lintas di lapangan tidak boleh dilakukan hanya berdasar kemauan, tanpa mempertimbangkan kemampuan. Jika hal itu dipaksakan nantinya justru akan menimbulkan persoalan di lapangan dan dikhawatirkan akan berimbas pada citra polisi secara keseluruhan.

Kepala Bagian Pembinaan Operasional (Kabag Binopsnal/KBO) Ditlantas Polda DIY AKBP Jan Benyamin, Selasa (16/6) menyampaikan bisa dikatakan polisi lalu lintas merupakan ‘etalase’ antara masyarakat dengan kepolisian, karena sehari-hari berinteraksi secara langsung. Interaksi itu tidak hanya di lapangan, melainkan juga menyangkut pelayanan urusan kelengkapan kendaraan bermotor. Di antaranya Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), dan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Menurut Jan Benyamin, untuk menghindari terjadinya ‘kesalahpahaman’ antara anggota polisi dengan masyarakat terkait dengan tugas sehari-hari, perlu dilakukan peningkatan profesionalitas pada diri setiap anggota polisi. Karenanya, penempatan posisi anggota polisi lalu lintas di lapangan tidak boleh dilakukan secara sembarangan, melainkan harus berdasar kemampuan yang sesuai dengan tuntutan profesionalisme. “Semua berdasarkan pertimbangan pelayanan dan pengayoman pada masyarakat,” ujar Jan Benyamin.

BERITA REKOMENDASI