Program Kemitraan Solusi Tata Niaga Tembakau

YOGYA (KRjogja.com) – Tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia. Namun selama ini produksi tembakau belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Data menunjukkan, sejak 2013 permintaan tembakau mencapai lebih dari 300.000 ton/tahun. Sementara rata-rata produksi tembakau nasional hanya 170.000 ton/tahun.

[baca juga  APTI : RUU Pertembakauan Atur Kemitraan dan Substitusi Impor]

Menurut Peneliti Magister Ekonomika Pembangunan UGM Dr Wahyu Widayat MEc, kondisi ini disebabkan karena petani tidak mendapatkan keuntungan dengan menanam tembakau, sehingga beralih menanam komoditas pertanian lain. Alhasil, luas lahan tembakau di Indonesia terus menyusut dan berbuntut pada menurunnya produksi tembakau nasional. "Permasalahan ini terletak pada tata niaga dan alur perdagangan tembakau yang harus diperbaiki," terang Wahyu kepada wartawan saat menyampaikan hasil penelitian tentang pertanian dan tata niaga tembakau Indonesia di University Club UGM, Rabu (10/8/2016).

[Imbas La Lina, Produktivitas Tembakau Merosot]

Dijelaskan, selama ini rantai distribusi tembakau dari petani sampai pabrik rokok menggunakan sistem tradisional yang cukup panjang. Alur distribusi tembakau terlebih dahulu harus melalui pengepul, pedagang kecil, pedagang besar, pemasok, sehingga sampai pabrik harganya sudah melonjak tinggi. "Kondisi ini sama sekali tidak berpihak kepada petani," ujar Wahyu.

Untuk itu perlu digalakkan program kemitraan yang akan memangkas rantai distribusi, sehingga petani hanya melalui satu perantara yakni pembeli tembakau. Mitra ini bisa perusahaan rokok, swasta atau pemerintah. Dengan program kemitraan ini petani juga akan dibantu dari sisi modal, pengadaan benih, pelatihan untuk peningkatan produktivitas tembakau yang disediakan oleh pihak pembeli. Tentu saja dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan kedua belah pihak."Pemerintah perlu mendorong adanya kemitraan antara petani tembakau dan pemasok/perusahaan rokok dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kualitas tembakau, serta menjamin akses pasar bagi petani," kata Wahyu (R-2/Tom)

 

BERITA REKOMENDASI