PSKMY Fasilitasi Masyarakat yang Ingin Belajar Ketoprak

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Ketika ingin bicara perihal perkembangan dunia ketoprak, barometernya bisa melihat dari pelaksanaan festival yang cukup sering digelar. Ada satu catatan yang perlu diperhatikan dan menjadi perhatian stakeholder dunia ketoprak, pemain belum sampai pada taraf penghayatan saat memerankan seorang tokoh.

"Baru dalam taraf hapal, sehingga belum terasa roh atau penjiwaannya ke penonton," tegas senior ketoprak Yogyakarta, Widayat dalam Ajar Srawung #1 yang digelar Perkumpulan Seniman Kethoprak Mataram Yogyakarta (PSKMY), akhir pakan kemarin.

Menurut Widayat, untuk keaktoran atau pemeranan minimal harus melalui metode Mengerti, Menghayati, Melakukan atau yang akrab disebut M3. "Mengerti siapa tokohnya, umurnya, strata sosialnya, sifat-sifatnya. Untuk kemudian menghayati 'aku menjadi si tokoh, bukan aku sebagai si tokoh'," paparnya.

Setelah itu melakukannya di atas panggung. Ketoprak menurut Widayat menjadi seni improvisasi, sehingga sangat penting bagi pemain untuk menghidupkan pocapan (dialog).

"Harus bisa mendramatisasi dialog. Karena seni adalah rasa dan penokohan harus bisa terasa dalam benak penonton, untuk kemudian menjadi kesan di pikiran penonton," ungkapnya.

Tidak ketinggalan Dosen ISI Surakarta Achmad Dipoyono MSn menyampaikan materi tentang tarian Warok dari hasil pengamatan pelaksanaan Festival Reog di Ponorogo beberapa waktu lalu. Tarian Warok menurutnya bersifat luwes dan tidak terlalu baku. Hal tersebut dimaksudkan untuk lebih menghidupkan lagi dan memperindah pemeranan lakon warok bagi pemain ketoprak.

"Padahal tarian Warok cukup sering ditampilkan di pentas ketoprak yang mengusung lakon seputar Warok tersebut. Saya melihat, masih banyak pelaku ketoprak yang kaku dalam hal tarian. Kelemahan di seni ketoprak dalam hal proses," jelasnya.

Sehingga lanjut Dipoyono, perlu melatih keluwesan olah tubuh agar terlihat indah di atas panggung. Tuntutan bagi seorang pemeran akan lebih komplit apabila bisa akting, tari (joget) dan nyanyi (nembang).

Sekretaris PSKMY Okie Surya menjelaskan, program edukasi ini dilakukan dalam upaya sedekah budaya PSKMY pada seni budaya ketoprak Yogyakarta. Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi salah satu media diskusi dan pelatihan bagi siapapun yang ingin tahu lebih banyak tentang dunia ketoprak.

"Kegiatan ini menjadi salah satu jembatan silaturahmi budaya antara generasi senior dan penerus pelaku dunia ketoprak dalam upaya untuk terus menjaga, melestarikan bahkan sampai pada mengembangkan ke depan," ucapnya.

Rencananya kegiatan ini akan rutin dilaksanakan tiap bulan dengan mengundang berbagai narasumber yang peduli dan tertarik untuk bersama belajar tentang ketoprak. "Kegiatan ini murni disokong dana kas PSKMY tanpa bantuan dari pihak manapun," jelas Okie. (Feb)

BERITA REKOMENDASI