Putra Mahkota Pakualaman Jalani Siraman

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Dhaup Ageng Pura Pakualaman pernikahan BPH Kusumo Bimantoro ST dan calon istrinya, dr Maya Lakhsita Noorya sampai pada proses siraman Jumat (04/01/2019). Keduanya menjalani siraman secara terpisah di Dalem Parangkarsa dan Gandok Kepatihan Pakualaman.

Prosesi yang dimaksudkan sebagai persiapan lahir dan batin sebelum menjalani ijab qobul pada Sabtu (05/01/2019) besok tersebut dijalani keduanya dengan lancar. Keduanya mendapatkan doa restu dari para ibu yang telah berpengalaman dalam membina rumah tangga termasuk ratu-ratu Kraton Yogyakarta dan Surakarta.

Tim Pranatan Lampah-lampah Dhaup Ageng, Nyimas Tumenggung Sestrorukmi menjelaskan prosesi dimulai dengan disampaikannya perlengkapan siraman oleh keluarga pengantin putra pada pengantin putri yang sebelumnya berada di Kepatihan. Ada lima baki yang diserahkan di mana isinya cukup beragam misalnya kebaya dan handuk yang nantinya digunakan pengantin putri.

“Siraman putri tadi ada beberapa ibu yang turut memberikan air pada pengantin yakni BRAY Prabukusumo, Ayah Ibu mempelai putri, GBRAY Paku Alam X, eyang putri manten, BRAY Indrokusumo, KRAY Widyanti puspitaningsih, Hj Sudiyati dan Hj Wuryaningsih dari pihak putri. Semuanya berjalan dengan lancar,” ungkapnya.

Sementara Masriyo Dwijo Utomo yang mengikuti prosesi siraman pengantin putra mengungkap ada beberapa tamu kehormatan dari Kraton Yogyakarta dan Surakarta yang ikut dalam proses siraman pada BPH Kusumo Bimantoro. “Siraman putra tadi, GBRAY Paku Alam X, juga ibu ratu GKR Hemas, RAY Harnadi eyang pengantin pria, GBRAY Retno Martani puteri PA VII, GRAY Retno Rukmini, BRAY Puger, GKR Galuh Kencono dan GKR Wandansari dari Kraton Surakarta kemudian diakhiri oleh Ibu Arifin Panigoro dari Jakarta,” tandasnya.

GBRAY Paku Alam X menurut dia kemudian menutup prosesi siraman dengan nguloni yakni memberikan air wudhu dan menggunakan kain batik grompol yang maknannya guyub dan rukun. “Acara siraman ini adalah bentuk simbolisasi persiapan lahir dan batin sebelum bertemu dalam panggih setelah akad nikah besok. Seluruhnya lancar,” lanjut dia.

Siraman yang dilaksanakan keduan mempelai di Pakualaman tersebut berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang menggunakan air tujuh sumber. Kali ini dalam tradisi Kadipaten Pakualaman, siraman menggunakan satu sumber air yang ada di Pura Pakualaman tepatnya di sumur belakang Parangkarsa.

“Tradisi di Kerajaan termasuk Kadipaten Pakualaman ini berbeda memang jadi hanya gunakan satu sumber air. Tadi pengantin putri juga demikian menggunakan satu sumber air dari Pura Pakualaman,” ungkap Masriyo Dwijo Utomo salah satu panitia Dhaup Ageng. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI