PWMI ‘Gembleng’ Uztaz/Uztazah jadi Wirausaha

YOGYA, KRJOGJA.com – Masih rendahnya jumlah wirausaha di Indonesia menjadi perhatian Pengurus Perkumpulan Wirausaha Muslim Indonesia (PWMI). Uniknya, tidak hanya masyarakat umum yang dididik menjadi calon wirausaha sejati, namun uztas dan uztazah yang selama ini hanya menjadi penceramah.

"Selama ini para uztaz dan uztazah hanya berhubungan soal ceramah tapi tidak peduli dengan ekonomi umat. Mereka hanya menjadi penonton karena keterbatasan anggaran. PWMI hadir menjadi gebrakan untuk menyelesaikan masalah-masalah seperti ini," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) PWMI Zetrialdi Goechi kepada KRJOGJA.com di sela pelatihan wirausaha gelombang pertama uztaz/uztazah Jateng-DIY di Hotel @home Platinum Yogyakarta, Sabtu (17/03/2018).

Menurut Zetrialdi pada gelombang pertama ini pelatihan diikuti 124 orang dari 19 kabupaten/kota yang ada di Jateng-DIY. Mereka akan mendapatkan pelatihan berisi motivasi, strategi sampai akses ke pabrikan besar di Jakarta. Padahal selama ini akses menuju pabrik dikuasai oleh distributor besar dan pemodal kuat. Karena itu, para peserta juga akan mendapatkan bantuan modal, pendampingan selama dua tahun sampai evaluasi agar mampu menggerakkan ekonomi umat sesuai ajaran islm.

"Sebelum dinyatakan lolos, para calon peserta mengikuti test yang bekerjasama dengan Universitas Indonesia. PWMI sendiri sudah hadir di 16 Propinsi di Indonesia dan pelatihan direncanakan di semua kepengurusan cabang yang ada. Kami gencarkan pelatihan dan ditargetkan ada 1100 uztaz/uztazah yang mengikuti pelatihan sampai April 2018 ini," ungkapnya.

Dia menambahkan saat ini PWMI sudah bekerjasama dengan 10 jenis produsen besar guna memasarkan produknya. Namun, untuk sementara para uztaz/uztazah hanya memasarkan tiga jenis produk pabrikan besar seperti minuman, obat herbal/tradisional serta kosmetika.

"10 jenis produk ini sudah dikenal luas di masyarakat seperti ekstrak manggis Garcia dan susu MDL 525. Setelah mendapatkan pelatihan, PWMI akan mengadakan pertemuan rutin membahas perkembangan usaha. Pertemuan tidak digelar di hotel mewah, namun di masjid sehingga tidak mengganggu peran utama uztaz/uztazah itu," tandasnya. (Tom)

 

BERITA REKOMENDASI