Rantai Perdagangan Komoditas Strategis di DIY Masih Panjang

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pola distribusi perdagangan di DIY bagi komoditi bahan pangan strategis yaitu cabai merah, bawang merah dan daging ayam ras memiliki jumlah rantai utama yang sama atau masih panjang rantai distribusinya di seperti tahun sebelumnya. Sementara beras menunjukkan penambahan satu rantai utama.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Heru Margono mengatakan pola distribusi perdagangan komoditi strategis di DIY yang merupakan jalur penjualan dengan persentase volume terbesar dari produsen ke pelaku perdagangan hingga ke konsumen akhir tahun lalu masih sama seperti tahun sebelumnya. Pola utama distribusi bisa berawal dari luar provinsi karena beberapa wilayah tidak dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan konsumsi suatu komoditas sehingga harus mengimpor dari wilayah lain.

“Kami melakukan survei pola distribusi perdagangan beberapa komoditi strategis di DIY untuk mendapatkan pola distribusi perdagangan dan margin perdagangan dan pengangkutan (MPP) total dari produsen sampai dengan konsumen akhir pada suatu wilayah,” ujar Heru di Yogyakarta, Rabu (06/01/2021) keamrin.

Heru menuturkan Komoditas yang terpilih adalah beras, cabai merah, bawang merah dan daging ayam ras. Komoditas strategis di DIY yang disurvei antara lain komoditas yang paling banyak dikonsumsi masyarakaT, memiliki peran besar dalam pembentukan inflasi dan berkontribusi cukup besar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

“Pola utama distribusi perdagangan Beras mulai dari Produsen → Distributor → Pedagang Eceran → Konsumen Akhir. Cabai merah mulai dari Petani → Pedagang Pengepul → Pedagang Grosir → Pedagang Eceran → Konsumen Akhir. Bawang merah mulai Produsen → Pedagang Pengepul → Pedagang eceran → Konsumen Akhir. Daging ayam ras mulai Produsen → Pedagang Eceran → Konsumen Akhir,” terangnya.

Sementara itu, Heru menambahkan persentase MPP pada 2019 yakni beras sebesar 14,82 persen, cabai merah 42,48 persen, bawang merah 27,97 persen dan daging ayam ras 33,37 persen. MPP tersebut mengindikasikan kenaikan harga dari produsen sampai dengan konsumen akhir. Adapun MPP total dihitung berdasarkan MPP pelaku perdagangan yang terlibat dalam pola utama. (Ira)

BERITA REKOMENDASI