Restu Ayah Hanya Diberikan ke Wagimin Kalau Mau Jadi Pembuat Blangkon

WAGIMIN Darmo Wiyono akhirnya menuruti pilihan orangtuanya. Restu dari ayahnya akhirnya turun setelah ia mau jadi pembuat blangkon, bukan sopir seperti pekerjaan yang ia geluti saat itu.

Sebagai pembuat blangkon, Wagimin memegang sifat jujur dan disiplin. Ia akan jujur terhadap produk yang diminta oleh pelanggannya dan disiplin dalam mengerjakannya. Ayah Wagimin merupakan seorang veteran yang terbiasa menjalani kehidupan dengan serba disiplin. Kebiasaan itu pun akhirnya ditularkan kepada Wagimin.

“Bapak saya itu veteran, buta huruf, tapi sangat disiplin. Saya dididik dengan keras. Dulu sewaktu saya kecil, kalau saya terlambat mandi sore, bukan kata-kata lagi yang berbicara, tapi sebatang kayu yang berbicara. Iya, maksudnya dipukul,” senyum Wagimin pada wajahnya yang keriput mengiringi tawa kecilnya.

Tak sedikitpun ia sedih dalam menceritakan pengalaman tersebut. Menurutnya, cara sang ayah dalam mendidiknya lah yang menjadikan ia dapat menjadi kuat dalam menjalani kehidupan, termasuk rintangan-rintangan yang dihadapinya selama menjalani karir sebagai pembuat blangkon.

Menjadi Pelayan Toko, Kernet Bus, Hingga Restu Sang Ayah

Wagimin Darmo Wiyono (Kurnia Putri Utomo)

Wagimin menikah pada 14 Juli 1972, saat itu usianya kira-kira baru 18 tahun. Sebelum berkeluarga, pekerjaannya adalah menjadi pelayan toko milik sepasang suami istri  Tionghoa. Pekerjaan sehari-hari adalah melayani pelanggan dan berbelanja kebutuhan toko dengan mengawal 4 becak yang mengangkut kebutuhan toko.

Namun di akhir Juli 1972, Wagimin memutuskan untuk berhenti bekerja di toko tersebut. “Setelah saya menikah, saya merasa pekerjaan saya terlalu diawasi oleh nyonya, seolah nyonya tidak percaya dengan saya. Saya jadi merasa tidak nyaman. Saya tidak ingin kerja tapi tidak dipercaya,” tuturnya.

Wagimin akhirnya meninggalkan pekerjaan yang memberinya upah Rp 3000/bulan saat harga beras Rp 40 perkilogram saat itu. “Nyonya terus mencurigai saya entah mengapa. Padahal saya ketika belanja tidak pernah melakukan transaksi sebelum terbukti kualitas dari belanjaan yang saya beli,” lanjutnya.

Wagimin mengaku Babahe (tuan pemilik toko kelontong) tidak rela kehilangannya sebagai pelayan toko. Babahe menganggap Wagimin karyawan yang jujur dan ulet. Namun Wagimin tetap memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan itu.

“Saya tidak bilang ingin berhenti. Saya hanya bilang saya capek, ingin istirahat, tapi saya tidak kembali. Kalau saya bilang saya ingin berhenti, pasti tidak boleh sama babahe,” tuturnya sambil tertawa terpingkal.
Sembari mengambil asbak di atas etalase kaca berisi blangkon dan merogoh sekotak rokok, Wagimin memaparkan dengan singkat pekerjaannya di bidang transportasi. Mulai dari profesi supir bis Handayani, montir, kernet, kondektur pernah ia jalani.

“Pada Januari 1975 saya berhenti bekerja di bidang transportasi. Masalahnya adalah, ayah saya tidak merestui saya untuk menjadi supir,” tuturnya sembari memantik korek api pada ujung rokoknya. Wajahnya terlihat santai saat menghisap rokok dan mengepulkan asap rokok itu di udara.

Mitra kerja di rumah produksi milik Wagimin (Foto : Kurnia Putri Utomo)

Sambil merokok, Wagimin tidak berhenti bercerita. Ketika Wagimin hendak meminjam uang pada sang ayah untuk membuat SIM, sang ayah pun tidak memberi uang pinjaman tersebut. Kemudian ayah Wagimin berkata, “saiki nek kowe arep nyopir aku ra mangestoni, nek kowe gelem ajar gawe blangkon aku mangestoni, sesuk kowe iso duwe pelanggan dhewe." (sekarang kalau kamu ingin jadi supir, aku tidak merestui. Kalau kamu ingin belajar membuat blangkon, saya merestui. Besok kamu akan memiliki pelanggan sendiri).

Pada zaman itu, tidak ada asuransi untuk sopir bus atau truk. Apabila terjadi kecelakaan, seluruh tanggungjawab akan ditanggung si sopir termasuk apabila si sopir terluka. Hal tersebut yang membuat ayah Wagimin tidak memberi restu. (Salsabila Anissa)

Setelah tidak menjadi sopir, Wagimin kemudian memulai usaha membuat blangkon. Tidak langsung sukses, jalan berlikupun ia jalani sebelum ia dipercaya banyak orang seperti sekarang ini. Selanjutnya
Sebelum Tidur, Wagimin pun Hafalkan Proses Membuat Blangkon

Baca Juga : Mondolan Blangkon Jogja Solo Berbeda, Ini Penjelasannya

BERITA REKOMENDASI