Ristanti, Berobsesi Majukan Dunia Pariwisata

Editor: Ivan Aditya

POSISI wanita di dalam rumah tangga, saat ini tidak lagi sebatas sebagai ‘kanca wingking’ yang kesehariannya berada di dapur. Konsep berumah tangga yang membatasi aktivitas wanita di luar rumah, sudah bergeser sejak diperjuangkan oleh RA Kartini dengan gerakan emansispasi wanita. Sejak RA Kartini memperjuangkan emansipasi wanita, perlahan-lahan tetapi pasti terjadi perubahan besar terkait dengan kedudukan wanita.

Setidak-tidaknya sekarang wanita tak hanya berada di ‘pawon’ untuk urusan ‘mangsak, asah-asah lan umbah-umbah’. Wanita bisa tampil di depan bahu membahu bersama suami untuk urusan mencari rezeki, guna menegakkan ekonomi keluarga.

Setelah diperjuangkan bertahun-tahun oleh RA Kartini, harapan seperti itu kini bisa terwujud. Banyak wanita yang tampil di garda depan, menjadi pemimpin sekaligus sebagai ibu rumah tangga. Tampilnya sejumlah legislator dan eksekutif di pemerintahan, merupakan bukti bahwa wanita tidak bisa dipandang sebelah mata.

Keberhasilan gerakan emansipasi wanita setidak-tidaknya bisa dirasakan oleh Ristanti SIP MPar (56) wanita kelahitan Banjarmasin yang saat ini menduduki posisi sebagai Manager Hotel Grand Orchid Hotel Yogya, sebuah jabatan yang tergolong prestisius. Apa yang dicapai Ristanti tentu melalui proses atau perjuangan panjang yang melelahkan, tidak datang secara tiba-tiba seibarat batu jatuh dari langit.

Marintis karir sebagai AS GM Sekretaris di Hotel Mutiara Yogya pada tahun 1984, tahapan demi tahapan dilalui hingga pada 1998-1999 menduduki AS Senior Recepsionis. Wanita yang murah senyum dan hobi menyanyi ini, mengakui sangat menikmati bekerja di hotel.

Namun demikian, Ristanti tak mau berkutat di satu tempat, sebagai upaya mengembangkan karir. Setelah di Hotel Mutiara, berturut-turut Ristanti pindah ke Hotel Brongto, Hotel Musafira, Hotel Galuh Prambanan, Hotel Saphir Yogya, Ramada Resort Benoa Bali, Rosalia Indah Hotel dan kini di Grand Orchid Hotel Yogya.

Menurut Ristanti dirinya berkeinginan untuk menikmati hasil perjuangan RA Kartini di ranah emansipasi wanita dengan cara yang positif. Persamaan hak antara pria dan wanita tidak harus dipahami ‘opo-opo kudu podo’, melainkan harus tetap memperhatikan kodrat diri. Sesuai dengan peradaban manusia, antara pria dan wanita memang telah memiliki kodratnya masing-masing.

Karena itulah, emansipasi wanita harus dimaknai secara proporsional. “Kita tidak boleh ‘kebablasen’ dalam memaknai emansipasi wanita yang sudah diperjuangan oleh RA Kartini,” ujar Ristanti.

Ristanti mengaku apa yang dicapainya hingga saat ini tidak lepas dari sikap toleran suaminya, Ir Atut Budi Santosa. Sang suami memberi kepercayaan pada Ristanti untuk mengembangkan potensi diri yang dimilikinya. Tanpa sikap toleran dan ‘ngemong’, Ristanti mengakui dirinya tidak akan mulus mengembangkan karirnya. Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari sikap suaminya, ‘sak maju-majune wong wedok tetep kudu ngelingi kodrate’.

Menikah dengan Ir Atut Budi Santosa pada tahun 1985, Ristanti dikarunia dua putra, Hendra Budi Prasestya ST dan Ryan Budi Setiawan SPar, kini tinggal di Brojogaten, Kalangan, Baturetno, Banguntapan, Bantul. Tak sekadar suntuk dengan pekerjaannya di Grand Orchid Hotel Jogya, Ristanti juga berkecimpung di sejumlah organisasi.

Di antaranya Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, sebagai Bendahara, Indonesia Hotel General Manajer Asosiation (IHGMA) DIY di Divisi Keanggotaan, Wanita Industri Pariwisata Indonesia (WIPI) DIY sebagai Humas, dan Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) DIY di Divisi Dana dan Usaha.

Bukan perkara gampang membagi pikiran dan tenaga di keluarga, tempat bekerja, dan organisasi. Tetapi berbekal pengalamannya sejak tahun 1984 dan dorongan dari suami serta anaknya, Ristanti bisa menjalankan tugas yang dibebankan di pundaknya. ” Saya yakin, dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan, setiap masalah pasti ada solusi,” kata Ristanti.

Menerutnya, bekerja di hotel butuh kesabaran karena yang dihadapi adalah tamu-tamu dengan berbagai karakter. Selain itu bekerja di hotel agak tidak lumrah, yakni di saat orang lain libur, dirinya harus bekerja keras menservis tamu-tamu yang liburan.

Apa yang dicapai Ristanti diakuinya tidak dicapai secara instans, melainkan melalui tahapan demi hatapan yang cukup lama dan panjang. Sesekali dirinya teringat ketika menempuh pendidikan di SMP Marsudi Luhur I Yogyakarta, dimana dirinya biasa jalan kaki dari Kampung Rotowijayan menuju SMP Marsudi Luhur I Yogyakarta, yang terletak di Bintaran Kidul, Yogyakarta, demikian pula sebaliknya.

Meski dijalani dengan ‘legawa’, masa-masa itu tetap dianggapnya sebagai awal dirinya ditempa keadaan. Bagaimana tidak, sebagian besar teman-temannya sudah naik sepeda, bahkan ada yang naik sepeda motor, dirinya masih naik ‘kapal’ alias jalan kaki.

Ristanti mengungkapkan ia berobsesi memajukan dunia perhotelan dan pariwisata Yogyakarta, agar menjadi kiblatnya pariwisata nasional, bahkan internasional. Salah satu langkah yang ditempuh, memperbaiki dan meningkatkan kualitas perhotelan yang menjadi tempat menginap para wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Menurutnya, kualitas layanan hotel akan mempengaruhi kedatangan wisatawan, baik wisatawan domestik maupun manca negara.

Ristanti menyebut Kraton Yogyakarta, Candi Prambanan, Kawasan Malioboro, dan sejumlah pantai merupakan destinasi wisata yang sangat potensial mengangkat citra Yogyakarta sebagai Kota Wisata. Mengenai potensi wisata yang perlu dikembangkan, Ristanti menyebut beberapa sentra kerajinan dan kuliner sebagai modal menggaet wisatawan, semisal Desa Kerajinan Wayang Kulit di Wukirsari, Pusat Kerajinan Batik Kayu di Krebet, Kampung Batik di Tamansari, pusat produksi Bakpia Pathuk, dan pusat Masakan Gudeg di Wijilan.

“Makam raja-raja di Imogiri dan makam-makam lain yang berkaitan dengan sejarah Kraton Mataram juga bisa dikembangkan menjadi tempat ziarah wisata,” ucap Ristanti.

Menurut Risanti, Yogyakarta memiliki tempat wisata yang jumlahnya cukup banyak. Mulai dari tempat wisata yang berkaitan dengan cagar budaya hingga tempat wisata yang digagas oleh para pelaku wisata dan usaha kuliner. Potensi itulah menurut Ristanti yang harus dikembangkan. (Haryadi)

BERITA REKOMENDASI