Ritual Mulung Pulung hingga ‘Mbeleh’ Jago demi Wahyu Kepemimpinan

Editor: Ivan Aditya

SERING dibahas kaitan suatu jabatan dengan apa yang disebut pulung. Maka di balik hiruk pikuk kampanye kandidat menggalang dukungan dan membangun citra diri, kerap terselip cerita-cerita yang sulit terkonfirmasi kebenarannya. Bahwa kandidat A sowan Kiai X, tirakat di lokasi Y dan kabar-kabar setipe yang muaranya adalah dunia supranatural.

Tujuannya adalah memohon kepada Tuhan agar didekatkan dan diberi keberuntungan sehingga bisa memenangkan kontestasi berebut kedudukan. Mitos tentang pulung kepemimpinan sampai sekarang masih sayup-sayup terdengar. Meski seorang pelaku ilmu kejawen Mbah Suro warga Sidoluhur Godean Sleman mengungkapkan kegundahannya lantaran ada fenomena ‘memaksa’ datangnya pulung dengan cara-cara tak elok. Antara lain dengan kekuatan uang.

Uang, menurut Mbah Suro, bisa memikat dan menjadikan keberuntungan memenangkan kontes demokrasi berpihak kepada orang yang memiliki. Dalam konteks spiritual, fenomena ini jelas menggelisahkan.

Dengan dana besar, seorang kandidat bisa memobilisasi para spiritualis untuk mengerahkan kemampuannya mendatangkan pulung keberuntungan. “Memenangkannya bisa diperoleh. Namun kemaslahatan dari jabatan yang diperoleh tersebut, tak ada jaminan,” tuturnya.

***

Pelaku spiritual di tanah Jawa dikenal kreatif dalam mengembangkan keilmuannya. Termasuk dalam hal mengejar pulung. Ki Wirosekti Kusumo mengungkap adanya ritual Mulung Pulung. “Ini semacam jemput bola agar memeroleh keberuntungan dalam kontestasi pesta demokrasi,” ujarnya.

BERITA REKOMENDASI