RSUP Dr Sardjito Raih Rekor MURI , Rumah Sakit Pertama Bersertifikat CPOB

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRJOGJA.com – Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), sebagai UPTD rumah sakit pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat Yang Baik) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Sertifikat CPOB ini membuktikan bahwa proses produksi darah (plasma darah) di UPTD RSUP Dr Sardjito sudah memenuhi standar kualitas dan keamanan yang dipersyaratkan oleh BPOM.

Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, dr Eniarti MSc SpKj MMR mengatakan pihaknya
berkomitmen untuk mencapai, meraih serta menjaga mutu komponen darah yang dihasilkan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada pasien. Selain itu produksi plasma konvalesen terstandar dan selanjutnya mendukung program nasional, yaitu program fraksionalisasi plasma untuk menghasilkan berbagai produk plasma darah seperti albumin dan immunoglobulin yang saat ini masih harus impor dengan harga sangat mahal.

“Seritifikasi CPOB ini akan mendorong kami untuk tetap meningkatakan mutu dan keamanan produk darah yang dihasilkan,” terang Eniarti di sela acara penyerahan sertifikat CPOB dan penghargaan MURI di Gedung Administrasi Pusat RSUP Dr Sardjito, Jumat (3/12/2021). Hadir Kepala BPOM RI Dr Ir Penny K Lukito MCP yang menyerahkan langsung sertifikat CPOB tersebut kepada Dirut RSUP Dr Sardjito. Sementara itu Dirjen Prof dr Abdul Kadir PhD SpTHT-KL(K) MARS (Direktur Jenderal Pelayanan Kementerian Kesehatan RI) hadir secara virtual. Sedangkan penghargaan MURI diserahkan langsung oleh perwakilan MURI.

Kepala BPOM RI Penny K Lukito sangat mengapresiasi UPTD RSUP Dr Sardjito yang telah memenuhi standar internasional dalam memproduksi produk-produk plasma darah. Menurutnya, dari 460 unit transfusi darah di Indonesia baru 19 UTD yang mengantongi sertifikat CPOB, dan khusus untuk UTD di rumah sakit, baru UPTD RSUP Dr Sardjito yang bersertifikat CPOB. “Ini sangat penting untuk menginspirasi UTD lain khususnya UTD di fasilitas kesehatan (rumah sakit) untuk juga meraih sertifikasi CPOB,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan Penny, pemberian sertifikat CPOB ini merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan kemandirian dalam memproduksi produk-produk plasma darah, seperti albumin dan immunoglobulin yang saat ini banyak dibutuhkan untuk terapi Covid-19. “Kebutuhan pasien terhadap produk plasma darah ini sangatlah besar. Selama ini produk-produk fraksionalisasi plasma darah, kita masih tergantung impor. Nah dalam 5 tahun terakhir ini kita mempersiapkan bahan bakunya (produk plasma darah), setelah itu kita akan mempersiapkan teknologinya,” katanya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI