Rumah KH Abdul Kahar Mudzakkir di Kotagede Memprihatinkan

Editor: Ivan Aditya

PERKAMPUNGAN padat, Selokraman RT 47/11 Purbayan Kotagede, ada sepetak lahan subur ditumbuhi perdu dan ilalang. Tepat di tengah lahan yang luasnya sekitar 1.000 meter persegi tersebut terdapat onggokan bangunan tidak terawat. Kondisinya sangat memprihatinkan. Meski jika diperhatikan saksama, struktur bangunannya masih menyisakan kemegahan arsitektur masa lalu.

Namun siapa sangka jika di bekas bangunan tidak terawat itulah dulu bermukim Prof KH Abdul Kahar Mudzakkir. Tokoh bangsa anggota Dokuritsu Junby Cosakai- /Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan anggota Panitia Sembilan yang diketuai langsung Ir Soekarno. Bahkan, Prof Abdul Kahar merupakan salah satu perumus dan ikut menandatangani Piagam Jakarta. Kediaman yang mestinya digunakan turuntemurun anak cucu justru kondisinya sangat memprihatinkan.

"Awalnya informasi melalui Grup WA dari Pak Djarot Syaiful Hidayat ada rumah di Kotagede yang pernah ditinggali Prof KH Abdul Kahar Mudzakkir kondisinya memprihatinkan. Akhirnya saya diminta DPP PDIP untuk memastikan kondisinya serta apakah memang benar pernah ditinggali beliau? Dan ternyata memang benar," ungkap Anggota DPR RI asal DIY sekaligus Ketua DPP PDIP Drs HM Idham Samawi saat meninjau langsung lokasi.

Menemui Anak Menantu Dalam kesempatan tersebut, Idham juga menyempatkan diri menemui anak menantu Prof Abdul Kahar, Djuwita Setyawati yang merupakan istri dari putra kedua Abdul Kahar, Rifqi Abdul Kahar. Selain itu juga ikut menemui putra sulung Djuwita, Ubaidurrahman yang merupakan cucu KH Abdul Kahar.

Menurut Idham, setelah mendapatkan kepastian ini akan segera melaporkan ke DPP PDIP untuk mengambil langkah lebih lanjut. Hanya saja Idham mengaku prihatin dan tidak rela ada rumah pendiri bangsa yang luput dari perhatian.

"Padahal jasa beliau sangat besar bagi bangsa. Ikut mempersiapkan dasar Indonesia Merdeka sekaligus konstitusinya," tegas Idham.

Sementara itu, Djuwita didampingi putra sulungnya, Ubaidurrahman menjelaskan rumah tersebut roboh saat terjadi gempa 2006. "Rumah itu memang pernah ditinggali bapak (KH Abdul Kahar-red). Tapi soal kapan dan berapa usia bangunannya kurang tahu. Karena saya menikah dengan Pak Rifqi (alm), beliau sudah meninggal," ucap dengan terbata-bata.

Termasuk bagaimana keseharian KH Abdul Kahar, Djuwita juga hanya mendengar dari cerita. Namun yang pasti Prof Abdul Kahar merupakan sosok yang sederhana, loyal dan taat beragama.

"Pernah berdandan seperti petani bawa cangkul. Padahal beliau profesor. Rumah itu ceritanya juga sering digunakan bersembunyi pejuang," jelasnya.

Dijelaskan pula, rumah tersebut pernah ingin direhab Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) pada tahun 2012. Namun komunikasi terputus sejak meninggalnya Rifqi Abdul Kahar pada 2014 yang sebelumnya bekerja sebagai Dosen di FIAI UII.

Keluarga juga sempat berkirim surat kembali pada 2016 namun belum mendapat jawaban sampai saat ini. Prof KH Abdul Kahar Mudzakkir pernah jadi Rektor UII dua periode, 1945-1948 dan 1948-1960. (Febriyanto)

BERITA REKOMENDASI