Rush Money Picu Kegaduhan Ekonomi

YOGYA (KRjogja.com) – Adanya gerakan mengajak masyarakat untuk menarik dana di perbankan sebaiknya tidak dilakukan. Masyarakat Indonesia terutama di Yogyakarta dinilai lebih cerdas tidak mengikuti ajakan yang hanya membuat gaduh perekonomian nasional.

Demikian ungkapan Pakar Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Ahmad Ma'ruf saat dikonfirmasi KRjogja.com, Selasa (22/11/2016). Menurutnya, gerakan itu tidak dipicu oleh kondisi ekonomi terutama perbankan sehingga berbeda dengan peristiwa di tahun 1997-1998. Gerakan ini lebih kental suasana politik akibat ketidakpuasan kelompok tertentu kepada pemerintah. Apalagi dilakukan saat fundamental perbankan dan kondisi ekonomi Indonesia sedang tumbuh.

"Rush money di tahun 1997-1998 akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap perbankan. Kali ini sempat ada kekuatiran, namun tidak perlu diikuti karena hanya bertujuan membuat gaduh ekonomi. Bila ajakan, hasutan dan mobilisasi massa tidak berhasil, cara mudah adalah 'mengganggu' sektor moneter yaitu perbankan," ungkapnya.

Dia menambahkan alasan penarikan uang di bank dengan alasan menghindari riba juga tidak beralasan. Idealnya, nasabah yang sudah menarik tunai simpanannya, langsung dimasukkan di bank syariah dan bukannya disimpan di dalam rumah. Apalagi saat ini perbankan syariah nasional mencatat kinerja gemilang sejalan dengan perbankan konvensional.

Sekadar informasi Rush Money 2511 merupakan gerakan penarikan uang dari bank secara serentak dan besar-besaran pada tanggal 25 November 2016 sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah untuk mengadili Ahok. Tidak diketahui secara pasti siapa penggagas gerakan itu. Juga belum diketahui, setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka penista agama pada Rabu (16/11/2016) lalu, apakah #RushMoney2511 masih akan dilakukan. (Tom)

BERITA REKOMENDASI