Saat Perempuan Berusaha Pertahankan Seni Tenun Nusantara

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Program Creative Youth at Indonesian Heritage Sites sebuah kolaborasi UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia di bawah dukungan Citi Foundation sejak 2017, saat ini sedang melanjutkan Fase IV di tahun 2021. Program yang dikenal pula dengan nama Kita Muda Kreatif ini, di tahun 2021 menargetkan 300 wirausaha muda yang tinggal di sekitar kawasan budaya atau alam ternama, yaitu Danau Toba, Borobudur, Prambanan, Klaten, Yogyakarta, Kotatua Jakarta, Bali dan Lombok.

Program ini memberi dukungan pada wirausaha muda perempuan di kawasan-kawasan tersebut, dengan cara meningkatkan kapasitas mereka dalam mengembangkan industri kreatif dan melestarikan warisan budaya tak benda melalui wilayah bisnis, seperti pariwisata budaya, tekstil tradisional, dan kerajinan tangan. Sekitar 22 persen dari total penerima manfaat program ini adalah para penenun perempuan dari Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Utara, yang secara rajin dan tekun melestarikan keterampilan dan produksi tenun tradisional.

Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional tahun ini, UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia dengan dukungan Citi Foundation turut merayakan pencapaian para penenun perempuan Indonesia dengan menggelar kegiatan live streaming berdurasi 90 menit. Mengangkat tema #ChoosetoChallenge, acara ini menampilkan kisah-kisah inspiratif dari para perempuan penenun Indonesia, yang menerima tantangan melestarikan kain tenun tradisional Indonesia di tengah pandemi COVID-19 yang melanda dunia.

Sartika Martilova Sihombing, seorang perempuan penenun ulos dan pemilik Soit Tenun Ulos dari Tapanuli Utara, Toba, berbagi pengalamannya, Sebagai penenun ulos, pandemi Covid merupakan tantangan yang begitu berat. Pada awal pandemi ia sempat pesimis bisa bertahan sebagai penenun ulos, karena pesanan tenun ulos turun drastis.

“Setelah beberapa bulan masa pandemi, saya mulai bangkit dan semangat lagi. Salah satu yang membuat semangat bertenun saya kembali adalah pendampingan program Kita Muda Kreatif dari UNESCO-CITI Indonesia. Ketika mengikuti berbagai pelatihan daring, saya melihat ternyata bukan hanya saya yang terdampak Covid-19, teman-teman para wirausaha muda lain juga ikut terdampak. Dari situ kami saling berbagi informasi dan bertukar pengalaman tentang cara untuk tetap bertahan,” ungkapnya secara daring, Selasa (23/03/2021) malam.

Berpindah di lain tempat, Sri Hartini, Ketua Kelompok Nina Penenun dari Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, juga bercerita tentang kisah yang dijalani yakni terkait regenerasi penenun. Tenun menurut Sri merupakan budaya turun temurun yang berupaya terus dipertahankan kelangsungannya.

“Kami berharap UNESCO bisa membantu kami meregenerasi penenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan. Dengan berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan kapasitas anak muda di bidang tenun, kami yakin akan bisa mempertahankan budaya menenun di sini. Kelompok Nina Penenun berkomitmen untuk melestarikan tenun yang ada di Pringgasela. Tindak nyatanya kami mengajari anak-anak kami di Pringgasela Selatan untuk menenun melalui sekolah tenun. Para ibu-ibu anggota kami sosialisasikan untuk mengajari anak-anaknya menenun. Kami yakin dengan program-program yang kami lakukan kelestarian tenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan dapat terjaga,” tandas dia.

Sementara Irini Dewi Wanti, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, menjelaskan pentingnya peran Penenun atau lebih dikenal dengan nama Partonun di Tapanuli, Perempuan penenun atau Partonum, adalah seniman. Mereka adalah pekerja seni, menenun bukan hanya masalah ekonomi keluarga tapi juga mewarisi budaya.

“Partonun bekerja demi kelangsungan warisan mahakarya nenek moyang, menjaga filosofi hidup orang Batak, serta kemahiran tradisional yang tidak semua orang dapat melakukannya. Karenanya Partonum Perempuan adalah penjaga budaya, dalam masa krisis apapun dia akan tetap bertenun, karena sebagai seniman ia akan tenggelam dalam dunianya. Seberapapun hasil yang diterima maka itulah yang mereka jalani, selanjutnya adalah tugas kita membantu menyejahterakan mereka,” ungkap dia.

Meskipun Hari Perempuan Internasional dirayakan setiap tahunnya, kerja keras dan pencapaian kaum perempuan tidak selalu mendapatkan perhatian yang layak mereka terima. Ketidakadilan ini terus berlanjut ke dunia politik, lembaga bisnis dan akademis, serta di bidang seni dan budaya.

“Di Indonesia dan seluruh dunia, banyak perempuan yang menjadi pemimpin dan penggerak berbagai kegiatan budaya di mana mereka menghasilkan banyak invasi dan pencapaian. Tenun tradisional adalah salah satu bidang di mana pengetahuan berharga diwariskan dari para ibu ke anak-anak perempuan mereka secara turun-temurun. Dan saat ini, sektor tenun tradisional bertahan berkat generasi perempuan muda Indonesia yang dinamis, yang memadukan kreativitas artistik dengan keterampilan bisnis,” tutup Hans Thulstrup, Officer-in-Charge, UNESCO Jakarta. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI