Sabtu Pahing dapat Dijadikan Hari Budaya Kraton

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Budaya yang ditujukan untuk dakwah tidak tepat jika dikatakan sebagai bid’ah. Karena hal ini dapat dimaknai sebagai bagian bersilaturahim yang juga dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Hal tersebut diungkapkan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr KH Yudian Wahyudi PHd dalam acara diskusi di Serambi Masjid Gedhe Karaton Yogyakarta, Sabtu (09/11/2019).

“Pada prinsipnya dalam hal menjalankan syariat atau ajaran agama Islam ada dua hal yang tidak boleh diubah yaitu soal akidah dan ibadah mahdhoh. Selain dua hal ini, bisa dilakukan dengan cara ijtihad, misalnya dakwah dengan budaya dan kearifan lokal seperti dengan gamelan," katanya.

Ada yang memaknai Sekaten berasal dari kata ‘syahadatain’ yang berarti dua kalimat syahadat. Selain itu, Sekaten.juga terkait erat dengan gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga. Konon, pada masa Kerajaan Demak, para Wali menggunakan momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Bulan Mulud (Tahun Jawa) untuk berdakwah dengan pertama-tama membunyikan gamelan.

Masyarakat yang tertarik dengan suara gamelan, akan berkumpul dan kemudian mendengarkan dakwah para Wali dalam menyebarkan agama Islam. Sekaten yang diselenggarakan pada Bulan Mulud kemudian juga sering disebut dengan peringatan Muludan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, rangkaian Hajad Dalem Sekaten 2019 tidak diikuti dengan pasar malam. Ditiadakannya pasar malam pada tahun ini yakni untuk mengembalikan inti pokok dari Hajad Dalem Sekaten.

“Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga bukan berasal dari Demak. Setelah Perjanjian Giyanti digelarlah pertemuan antara Sultan Yogyakarta dengan Sunan Surakarta di Lebak, Jatisari," kata KRT Jatiningrat atau yang akrab disapa Romo Tirun.

Ditambahkannya, pertemuan ini membahas mengenai peletakan dasar kebudayaan bagi masing-masing kerajaan, termasuk mengenai perbedaan identitas kedua wilayah yang sudah menjadi dua kerajaan yang berbeda. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu Pahing, 15 Februari 1755.

"Maka dapat dikatakan bahwa Sabtu Pahing adalah hari budaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat,” pungkasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI