Sampah Menumpuk di Malioboro, Petugas DLH Turun Tangan

YOGYA, KRJOGJA.com – Volume sampah yang dihasilkan masyarakat selama libur tahun baru meningkat cukup signifikan. Petugas pun kesulitan mengevakuasi sampah karena kepadatan pengunjung di pusat wisata serta kondisi sampah yang masih dibuang sembarangan.

"Ketika pengunjung cukup padat, terutama di Malioboro, membuat kami tidak bisa masuk. Tempat sampah yang sudah disediakan, belum dimanfaatkan dengan baik. Masih ada yang seenaknya menempatkan sampah,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogya Suyana, Rabu (1/1).

Kenaikan volume sampah selama sepekan ini rata-rata mencapai sepuluh persen dibanding hari biasa atau naik 30 ton per hari. Kawasan Malioboro masih menjadi penyumbang terbesar seiring tingginya pengunjung.

Suyana mengaku, meski sudah ada petugas kebersihan di Malioboro, namun pihaknya juga ikut turun tangan. Terutama dengan menempatkan satu kontainer di Abu Bakar Ali hingga 9 Januari 2020 mendatang. “Kontainer itu untuk memudahkan pengangkutan sampah karena depo di belakang UPT sudah tidak ada,” imbuhnya.

Depo di belakang UPT Malioboro itu ditutup lantaran untuk kepentingan pembangunan galeri oleh Pemda DIY. Alternatif untuk penempatan sampah ialah mengoptimalkan empat depo di sekitarnya yakni di Gedongtengen, Sriwedani, selatan Pasar Beringharjo serta Pringgokusuman. Empat depo tersebut sudah terbangun secara permanen. Hanya, petugas membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengangkut sampah di Malioboro ke empat depo tersebut.

Pengangkutan sampah di Malioboro hanya bisa dilakukan dengan gerobak kemudian dipindahkan ke depo terdekat. Terutama di depo selatan Pasar Beringharjo atau Pasar Sore. Sampah yang berada di sisi utara Malioboro sebagian dikumpulkan ke depo Gedongtengen. “Misal untuk mengangkut sampah dari depo kawasan Malioboro, tidak bisa dilakukan satu kali. Setidaknya butuh tiga kali pengangkutan
karena volume yang cukup banyak. Pada hari biasa, cukup satu kali,” tandas Suyana.

Akibat lamanya waktu yang dibutuhkan, maka penumpukan sampah tidak bisa dihindarkan. Namun Suyana berupaya agar sampah yang menumpuk tetap tertata rapi sembari menunggu giliran pengangkutan. Oleh karena itu dibutuhkan kerja sama dengan
semua pihak. Terutama masyarakat yang berkunjung di tempat wisata agar menaruh sampah dengan baik.

Sampah tidak sekadar ditaruh di tempat yang sudah disediakan, melainkan dipilah sesuai jenisnya. Apalagi di tempat wisata setidaknya ada dua jenis tempat sampah yang disediakan yakni kantong sampah khusus organik dan nonorganik. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI