Sastra Koran Masih Punya Pamor

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Bagi sastrawan kreatif generasi di atas tahun 2000 memiliki kesempatanberkarya di sastra koran dan sastra digital. Sampai sekarang sastra koran masih punya prestise alias gengsi atau pamor tersendiri. Demikian antara lain yang mencuat dalam Bincang-Bincang Sastra (BBS) diselenggarakan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) di Gedung Societet, Jalan Sriwedani Yogya, Jumat (26/02/2021) sore. Kegiatan tersebut dibuka Drs Diah Tutuko Suryadaru selaku Kepala TBY. Sebelum BBS diberlangsung dihadirkan musik Jejak Imaji dan baca puisi oleh Lintang
Kumalasari.

BBS menghadirkan narasumber Jayadi Kasto Kastari (Redaktur SKH Kedaulatan Rakyat), Tia Setiadi
(Redaktur Puisi basabasi.co) dan Ilham Rabbani (Penyair dan mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu
Budaya UGM) dipandu moderator Latief S Nugraha. BBS edisi ke-175 memilih tema 'Transisi: Generasi
Muda dan Dinamika Sastra'.
Menurut Ilham Rabbani, sastra koran punya pristise. 'Saya sendiri selain mengirim ke sastra online masih
tertarik dan bersemangat mengirim karya ke koran atau media cetak," ucapnya. Apalagi media cetak yang
punya pamor-prestise memuat karya sastra seperti Kompas, Jawa Pos dan Kedaulatan Rakyat.
Diakui, karya dimuat di media cetak ada prestise lebih tinggi dibanding media digital.

Sedangkan Tia Setiadi berpandangan, masa transisi dari cetak ke digital, sastrawan muda sebenarnya
memiliki peluang dengan penuh kemungkinan. "Koran berjatuhan, media baru, media digital
bermunculan," ujarnya. Media cetak dan online, bagi sastrawan muda punya kesempatan mempublikasikan
karya-karya. Bahkan medsos bisa untuk mempublisakan karya.
Ditegaskan Tia Setiadi, sastrawan muda harus optimis menggunakan media mempublikasikan karya-
karyanya.

BERITA REKOMENDASI