Satu Semester Pembelajaran Jarak Jauh, Guru Jadi Motivator

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Hari ini, Senin (13/7), Tahun Ajaran 2020/2021 dimulai di tengah suasana pandemi Covid-19. Agar pendidikan terencana dan terpola dengan baik, sistem pembelajaran juga harus pasti, dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama satu semester. Jika di tengah jalan ada kendala, maka bisa dirumuskan jalan keluarnya.

“PJJ tidak bisa dijalankan tentatif, dan setengah hati, atau sewaktu-waktu berubah jika kondisi membaik. Memang sebaiknya, waktunya pasti, sehingga dari perencaan lebih baik dan punya kepastian pola pembelajaran dan hasilnya bisa dinikmati,” ujar Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan dalam diskusi terbatas yang digelar Forum Masyarakat Yogya Istimewa (Formayo) Peduli Pendidikan, Sabtu (12/7).
Diskusi dipimpin Ketua Forum, Najib M Saleh didampingi Sekretaris Dr Satoto Nayono ST MEng. Para anggota yang ikut diskusi diantaranya, R Elvin Kurnia, Soeparno, Tanti Nayono, Zoelham, Bonny Samudra dan Heriyanti Suzana..

Menurut Sofyan, dari sejarah, PJJ itu sebetulnya sudah dilakukan sejak tahun 1994. Dan penggunaan internet masih terbatas. Namun demikian, sebetulnya PJJ bukan berarti semata-mata belajar online. PJJ harus dimaknai sebagai blended

(gabungan), dengan balajar online sebagai bagiannya. Ada tatap muka dengan terbatas, atau kunjungan guru kepada kelompok-kelompok belajar yang terbatas. “Tetapi pandangan masyarakat umumnya, PJJ adalah online,” ujar Sofyan yang berasal dari F-PKS.

Tantangan terbesar bagi Pemda DIY dan sekolah adalah bagaimana membawa guru dapat menyesuaikan PJJ dengan baik. Tidak semata-mata hanya memberikan tugas-tugas semata-mata. Guru harus dapat menjadi motivator, fasilitator dan evaluator. “Motivator bukan diwujudkan dengan memberikan soal terus disuruh siswa mengerjakan, tetapi juga bagaimana guru bisa berkomunikasi dengan baik dengan siswanya dalam proses PJJ tersebut,” ujar Sofyan.

BERITA REKOMENDASI