Sebelum Tidur, Wagimin pun Hafalkan Proses Membuat Blangkon

SETELAH Wagimin memutuskan untuk mengikuti keinginan sang ayah, agar menjadi pembuat blangkon, ia kemudian dibawa oleh ayahnya ke rumah salah seorang perajin blangkon. Di tempat tersebut, ia kemudian tekun belajar hingga mahir membuat blangkon. Tidak mudah, ada lika-liku yang ia lewati di tempat tersebut sebelum namanya dikenal sebagai pembuat blangkon di Yogyakarta.

Awal tahun 1975, Wagimin belajar di rumah produksi milik Slamet Raharjo. Ia belajar membuat blangkon mulai hari Selasa sampai Jum’at. Pagi hari hingga siang hari, ia hanya melihat proses pembuatan blangkon. Setelah itu, ia pulang untuk makan siang.

“Seninnya saya langsung praktekkan, dan saya langsung bisa. Alhamdulillah langsung rapi, langsung bisa dipasarkan,” tuturnya sambil meletakkan rokok pada asbak.

Blangkon pertamanya yang langsung rapi adalah hasil pengamatannya yang rinci. Wagimin memperhatikan bagaimana urutan kerja dan posisi jahitan pada proses pembuatan blangkon yang dilakukan oleh Slamet Raharjo.

“Bahkan sebelum saya tidur, saya masih mengingat-ingat bagaimana prosesnya, saya ingat-ingat lagi bagaimana posisi jahitannya,” paparnya sambil mempraktekan ekspresi wajahnya ketika mengingat proses pembuatan blangkon sebelum tidur.

Ruang produksi blangkon milik Wagimin, di Jalan Bugisan Yogyakarta (Foto : Kurnia Putri Utomo)

Ia kemudian bekerja di rumah produksi Slamet Raharjo bersama karyawan lain. Bekerja dengan Slamet yang merupakan tetangga dekatnya bukan berarti tanpa rintangan. “Proses saya untuk mandiri mendirikan usaha blangkon sendiri itu penuh dengan pukulan-pukulan dan kepahitan,” ujarnya. Sering apa yang ia lakukan tidak sama dengan yang diharapkan oleh pimpinan.

Namun Wagimin mengakui, bekerja dengan Slamet Raharjo memberinya banyak pelajaran berharga. Dibalik sikap Slamet yang keras, Wagimin tetap berterimakasih dan hormat kepada Slamet.

“Saat itu saya ambil hikmahnya saja. Berarti kan besok, ketika saya punya karyawan sendiri, saya akan membicarakan suatu masalah dengan baik-baik. Saya tidak ingin diam, saya ingin ada keterbukaan dengan karyawan,” ujarnya. (Salsabila Anissa)

Setelah belajar membuat blangkon, Wagimin memutuskan untuk mandiri. Bukan perkara mudah. Baca kisah selanjutnya >>>  Lagu 'Menuntut Ilmu' Jadi Penyemangat Wagimin Membuat Blangkon

BERITA REKOMENDASI