Sejarah Panjang Gula di Pulau Jawa (1) : Dipelopori Kraton Surakarta, Ternyata Banyak Memiliki Makna Filosofis

Makna Filosofis Gula

Pabrik gula beserta aktivitas produksinya menarik minat para pakar untuk melakukan penelitian dan pengkajian. Misalnya pabrik gula Colomadu yang dibangun tahun 1862 perlu untuk dikaji. Dengan pendekatan filosofis diharapkan butir-butir kearifan lokal dapat diperoleh demi penyusunan kebijakan yang bertumpu pada nilai kebudayaan.

Pendekatan filosofis atas kajian gula bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun. Secara kimiawi gula identik dengan karbohidrat. Bentuk dari karbohidrat, jenis gula yang paling sering digunakan adalah kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa dan keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam) menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel. Ada gula ada semut adalah ungkapan yang menggambarkan adanya daya tarik, sehingga banyak pihak yang datang berbondong-bondong.

Seperti misalnya urbanisasi dari desa ke kota, karena banyaknya peluang dan harapan.
Orang Jawa sangat akrab dengan gula beserta fungsinya. Tidak mengherankan apabila budaya Jawa kerap melagukan tembang dhandhanggula. Oleh karena itu dhandhanggula secara etimologis dapat diberi makna demikian. Dhandhanggula: dhandhang = hitam gula = legi atau manis, melambangkan seseorang telah menemukan gula hitam atau manisnya madu kehidupan sebagai suami istri. Dhandhanggula yang berasal dari kata dhandhang dan gula yang berarti pengharapan akan yang manis.

Dhandhanggula
Werdining kang wasita jinarwi,
wruh ing kukum iku watekira,
adoh marang kanistane.
pamicara puniku,
weh resepe ingkang mijarsi.
tatakrama punika,
ngedohken panyendu.
kagunan iku kinarya,
ngupa boga dene kalakuan becik,
weh rahayuning raga.
Terjemahan
Makna hakiki ajaran Jawa,
hendaknya taat pada hukum,
jauh dari kenistaan,
perkataan yaitu,
agar menyenangkan pihak lain,
tata krama sebenarnya,
menjauhkan sifat tercela,
ketrampilan dapat digunakan,
mencari nafkah dengan kelakuan baik,
agar diri menjadi selamat.

Tembang memiliki sifat-sifat atau watak. Definisi watak tembang adalah sebagai berikut: Tiap nama tembang Macapat mempunyai sifat/watak masing-masing. Oleh karena itu pemaparan atau penggambaran sesuatu hal biasanya diselaraskan dengan sifat/watak tembangnya.

Dhandhanggula berwatak luwes, menyenangkan. Sesuai untuk mengungkapkan segala hal/keadaan. Setiap tembang memiliki watak. Dhandhanggula mempunyai arti harapan yang manis, daunnya sebagai hiasan kehidupan, glali, dhandhang. Tembang Dhandhanggula ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Adapun wataknya fleksibel, luwes. Cocok untuk pembukaan, pertengahan dan penutup suasana. Penggunaan tembang tersebut dapat mendukung karakter dan situasi.
Bendera Gula Klapa menjadi simbol kebanggaan dan kejayaan kerajaan Jawa.

Dalam seni pewayangan seringkali ditampilkan adegan yang diiringi dengan lagu Gula Klapa laras pelog. Irama lagu Gula Klapa tampak bersemangat dan gagah berani. Musik yang disertai dengan gerakan wayang yang lincah membuat suasana menjadi sangat meriah.

Lagu Gula Klapa

Gula klapa abang putih sang dwi warna
Gula klapa iku minangka pratandha
Sagung bangsa nuswantara
Tunggal cipta rasa karsa
Adhedhasar Pancasila mrih tentrem tata raharja
Gula klapa abang putih sang dwi warna
Gula klapa gendera para perwira
Labuh labet mring negara
Jiwa agung trah kusuma
Budi luhur kulinakna watak asor singkirana

Gula klapa mengandung makna nasionalisme atau kebangsaan. Gula berwarna merah dan kelapa putih. Bendera Indonesia berwarna merah putih. Sejak zaman Kraton Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram dan Surakarta Hadiningrat selalu mengibarkan bendera merah putih. Semua sepakat bahwa bendera itu mengandung arti berani karena benar, dalam rangka membela kesucian.

BERITA REKOMENDASI