Sejarah Panjang Gula di Pulau Jawa (1) : Dipelopori Kraton Surakarta, Ternyata Banyak Memiliki Makna Filosofis

Rasa gula itu manis. Dalam budaya Jawa komunitas yang hadir dalam suasana kemanisan serta ketertiban adalah lebah. Lebah mempunyai makna kiasan yang dekat dengan gula. Madu dihasilkan oleh komunitas lebah. Dua-duanya berasa manis. Filsafat lebah mempunyai deskripsi dan argumentasi demikian. Kini orang berebut laba dan laba, bukankah itu kemunduran secara mental, kalau diukur dari kegotongroyongan semut, padahal rakyat sedemikian lama duduk bersila, sampai “semutan”, padahal cita-cita bersama bahkan mencapai kualitas ‘lebah’? Welingku ngger-angger, mumpung durung kedelarung marenana, ngger-angger, luwih ala milk darkebing wong liya. Nasehatku, wahai anakku, Sebelum terlambat, ber¬hentilah: Sangat tidak sepantasnya merebut milik orang.

Tala adalah sarang lebah. Dalam Al Qur’an Allah berfirman : Dan Tuhan mewahyukan kepada lebah: Bersarang dibukit-bukit, dipohon-pohon kayu, dan pada bangunan-bangunan lainnya dibuat oleh manusia. Dan makanlah olehmu bermacam-macam sari buah-buahan, serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan Tuhanmu dengan lancar. Dari perut lebah itu keluar minuman berupa madu yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan.

Ketika pada suatu saat Nabi Muhammad saw, terdesak dan berlindung pada Allah swt, dengan cara masuk ke dalam gua, maka ketika musuh-musuh Beliau melewati gua itu dan menduga kalau-kalau Nabi dan sahabatnya masuk kedalamnya, datanglah pertolongan-Nya, melalui laba-laba yang membuat anyaman sarangnya, segera setelah Nabi Muhammad saw lewat pintu gua sehingga ketika musuhnya mengamati pintu gua itu menjadi ragu-ragu, dan oleh karenanya maka terus lewat setelah hanya melemparkan batu kelubang gua. Di dalam kitab suci Alquran, dilukiskan bahwa selemah-lemah sistem sosial adalah sarang laba-laba, sedangkan seindah-indah komunitas uraian tentang sistem, antara lain dilukiskan oleh komunitas hewan lebah.

Dahulu Nusantara mendapatkan kemudahan alami, berupa subur makmur tanah airnya tetapi lalu lalai, bahwa kemudahan itu adalah karena perkenan Tuhan. Ketika kolonialisme/Imperialisme Barat secara aktif menyerang Nusantara yang berada di bawah penderitaan penjajahan. Dalam keadaan terdesak, Nabi berlindung kepada Tuhan, secara lahiriah berupa gua. Pintu gua pun segera ditutup Tuhan, berupa anyaman sarang laba-laba. Sarang laba-laba adalah organisasi keduniawian, keuangan khususnya. Keluarga bunga menghasilkan madu. Keturunan keluarga yang baik atau ningrat lebih memungkinkan untuk memiliki anak cucu yang cerdas, rupawan dan shalih.

Wacana sosial tentang perumpamaan-perumpamaan dapat menjadi tema-tema: mistik dan politik; mistik dan teknik; politik dan teknik. Dalam rangka membicarakan tema Rekayasa Agroindustri untuk Kesejahteraan Manusia, gambaran masyarakat lebah sebagai acuan yang sangat penting.

Adapun alasannya adalah sebagai berikut: sarang lebah itu di tempat yang tinggi, artinya punya kualitas, baik secara intelektual atau secara moral; Makanannya adalah makanan yang selected, yaitu sari buah-buahan; Masyarakat lebah adalah masyarakat yang cara-kerjanya berdasarkan suatu Tata; Produktivitasnya mengagumkan, yaitu madu yang serba manfaat, bahkan berkhasiat obat yang mujarab. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI