Sejarah Panjang Gula di Pulau Jawa (2) : Raih Kejayaan di Masa Kerajaan Jawa Hingga Tergusur Gula Bit

MASA kejayaan gula dalam lintasan sejarah telah mendukung eksistensi kebudayaan Jawa. KGPAA Mangkunegoro IV adalah disebut juga sebagai Raja Gula Indonesia pada masanya. Dia adalah keturunan Panembahan Senapati, raja Mataram. Pabrik gula yang memproduksi gula kristal, seperti PG Colomadu dan PG Tasikmadu diprakarsai oleh KGPAA Mangkunegoro IV, termasuk PG Candi di Jawa Timur pada 1830-an.

Dalam hal sastra budaya Jawa beliau adalah pengarang Serat Wedhatama dan Tripama yang terkenal itu. Mangkunegoro IV lahir pada tahun 1736, menjadi penguasa Mangkunegaran pada tanggal 17 Mei 1850. Wafat pada tanggal 2 September 1881. Kemilaunya karier Mangkunegoro IV di bidang pergulaan, yang langka digeluti oleh raja pribumi ini akhirnya berembus sampai penjuru dunia. Saban orang luar, pegawai tinggi atau swasta manakala berkunjung ke Solo minta diperbolehkan untuk melihat pabrik gula Mangkunegaran untuk menghapus rasa penasaran yang melanda dan belajar manajemen perkebunan “raja gula dari Jawa” itu.

Mangkunegoro IV telah meninggalkan warisan berharga berupa semangat berwirausaha. Bukti sejarah ini telah menghantam dengan sekeras-kerasnya citra merugikan yang diberikan oleh pejabat kolonial bahwa orang pribumi Jawa pemalas dan selalu kalah tanding dengan orang asing dalam usaha.
Titik awal pemerintahan Sri Mangkunegoro IV inilah yang oleh Pringgodigdo disebut menginjak zaman baru, karena pada era Sri Mangkunegoro IV inilah muncul perusahaan-perusahaan Mangkunegaran, yang peninggalannya berdiri dan berjalan, serta dapat disaksikan sampai tahun 1937.

Perusahaan-perusahaan itulah yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap keuangan raja, dan juga keuangan pemerintahan Mangkunegaran, sehingga Mangkunegaran mampu menyejajarkan diri dengan raja-raja besar yang ada di Jawa waktu itu. Kraton Surakarta Hadiningrat juga mewariskan pabrik gula yang besar. Namanya Pabrik Gula Manisharja. Ternyata para pemimpin Jawa itu dulu ulung dalam memutar roda ekonomi. Raja Jawa menyadari arti penting industri yang berbasis pertanian.

BERITA REKOMENDASI