Sekarang PLS Atau MOS, Dulu Namanya Plonco, Ini Dia Sejarahnya..

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Hari ini, Senin (18/7/2016) adalah hari pertama dimulainya ajaran baru 2016/2017 seluruh jenjang sekolah di Indonesia. Awal masuk sekolah selalu identik dengan masa orientasi atau pengenalan sekolah. Program ini khususnya digelar pada sekolah jenjang menengah dan atas.

Beragam cerita dan kenangan menarik saat Masa Orientasi Sekolah (MOS) dialami khususnya bagi siswa yang bersekolah hingga akhir tahun 2000an. Kenangan lucu saat diberi tugas aneh-aneh hingga dimarahi para instruktur MOS menjadi tahapan yang harus dilalui para siswa baru saat itu.

Sebenarnya bagaimana sejarah asal mula penerapan MOS disekolah di Indonesia, berikut KRjogja.com mencoba mengulasnya dari berbagai sumber.

MOS atau lebih dikenal dengan Perploncoan pada jaman dulu sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda. Seperti dikutip dari Historia, Mohammad Roem, menceritakan pengalamannya diploco ketika masuk Stovia (Sekolah Dokter Bumiputera) pada 1924. “Bahasa Belandannya plonco waktu itu adalah ontgroening. Kata groen artinya hijau. Murid baru adalah hijau, dan ontgroening dimaksudkan untuk menghilangkan warna hijau itu. Dia harus diberi perlakukan agar dalam waktu singkat menjadi dewasa, berkenalan dengan teman-teman seluruh Stovia,” kata Roem.

Sedangkan kata perploncoan itu berasal dari kata plonco artinya kepala gundul. Hanya anak kecil yang berkepala gundul waktu itu, sehingga kata plonco mengandung arti seseorang yang belum mengetahui sesuatu mengenai kehidupan masyarakat dan dianggap belum dewasa, karena itu perlu sekali diberi berbagai petunjuk untuk menghadapi masa depan.

Perploncoan dianggap sisa kolonialisme dan feodalisme, karenanya pernah terjadi penolakan. Menurut Darmanto, partai dan organisasi komunis seperti PKI dan CGMI menolak perploncoan karena menganggapnya sebagai tradisi kolonial, selain itu ada juga organisasi yang menolak berdasarkan alasan lain. Alhasil, perploncoan dilarang oleh pemerintah dan diganti namanya menjadi Masa Kebaktian Taruna (1963), Masa Prabakti Mahasiswa atau Mapram (1968), Pekan Orientasi Studi (1991), Orientasi Studi Pengenalan Kampus (Ospek), Orientasi Perguruan Tinggi (OPT), dan sekarang umumnya disebut Masa Orientasi Siswa (MOS). Tidak hanya namanya yang diubah tetapi penyelenggaranya juga institusi pendidikan serta wajib diikuti seluruh siswa dan mahasiswa baru.

Dari sumber lain disebutkan kegiatan MOS dan OSPEK di Indonesia dimulai sejak zaman kolonial Belanda, yaitu di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Siswa baru harus menjadi pembantu bagi para senior untuk membersihkan ruangan kelas. Tradisi tersebut kemudian berlanjut pada era Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942) (STOVIA dan GHS sekarang menjadi FKUI Salemba), pada masa GHS ini kegiatan itu menjadi lebih formal meskipun masih bersifat sukarela. Istilah yang digunakan pada saat itu adalah ontgroening atau “membuat tidak hijau lagi”, jadi proses ini dimaksudkan untuk mendewasakan si anak baru itu. (Ngip)

BERITA REKOMENDASI