Sekolah Negeri Masih Kekurangan Siswa, Muncul Wacana Penggabungan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Memasuki pekan kedua tahun ajaran baru, kuota sejumlah sekolah negeri di DIY belum semuanya terpenuhi baik dari jenjang SD-SMA/SMK. Bahkan ada SD negeri di Wonosari yang hanya mendapatkan dua siswa baru.

Di sisi lain, banyak sekolah swasta yang sampai menolak calon peserta didik baru karena daya tampungnya sudah terpenuhi. Kasus ini paling banyak dijumpai pada jenjang SD. Ini menunjukkan masih ada ketimpangan antara sekolah negeri dan swasta.

Hal tersebut diungkapkan Anggota Komisi D DPRD DIY Rany Widayati kepada KRJOGJA.com, Rabu (22/07/2020). Menurutnya tidak adalah salahnya dilakukan marger, terutama untuk sekolah yang animo masyarakat cenderung terus turun setiap tahunnya. Untuk guru serta tenaga pendidik yang lain juga bisa dialihkan ke sekolah lain, disesuaikan dengan kompetensinya masing-masing.

“Apalagi ada sekolah yang siswa barunya hanya dua orang, akan lebih baik digabungkan ke sekolah lain yang jaraknya terdekat saja. Mungkin kalau untuk saat ini bisa tetap di sekolah masing-masing karena memang masih belajar di rumah, namun harus ada evaluasi setidaknya dalam setahun ke depan. Jika memang di sekitar sekolah jumlah lulusan TKnya tidak sebanding dengan daya tampung SD, akan lebih baik digabungkan ke sekolah lain saja,” ujarnya.

Rany mengatakan, pihaknya pernah melakukan pendampingan terhadap sekolah di Kota Yogyakarta yang dulunya selalu banyak peminat. Namun seiring berjalannya waktu terus kekurangan murid hingga akhirnya digabungkan ke sekolah lain. Menurutnya itu bisa menjadi solusi, apalagi ditengah sistem zonasi seperti sekarang ini.

Terkait adanya ketimpangan antara sekolah negeri dan swasta terutama jenjang SD dalam mendapatkan peserta didik baru, diungkapkan Rany jika tidak semua sekolah negeri itu kualitasnya kurang bagus karena yang termasuk favorit juga banyak. Namun saja, sudah ada penilaian tersendiri dari masyarakat. Untuk SD negeri yang kompetensi gurunya dinilai kurang, maka hasil dari lulusan sekolah tersebut juga kurang kompetitif, seperti nilai ujiannya kurang bagus atau yang lain.

“Tapi dengan adanya zonasi tidak sedikit juga sekolah negeri favorit yang tidak bisa mendapatkan peserta didik baru yang diharapkan. Berbeda dengan dulu dimana masyarakat bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah yang dinilai favorit. Meski jauh dari tempa tinggal, kalau swasta bisa kan bisa bebas,” urainya. (Awh)

BERITA REKOMENDASI