Seni Merangkai Janur Jangan Sampai Diklaim Negara Lain

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Seni merangkai janur harus terus dipertahankan agar tetap lestari dan tidak diklaim milik bangsa lain. Sebagai salah satu potensi yang dimiliki Indonesia, janur perlu terus diperkenalkan secara luas pada masyarakat.

“Yang namanya nyiur melambai itu dari Sabang sampai Merauke. Jadi janur itu aset bangsa yang luar biasa. Semestinya tiap orang di Indonesia, khususnya yang ada di Jawa bisa memiliki ketrampilan merangkai janur. Apalagi kita juga makan ketupat. Selongsongnya juga dibuat dari janur juga kan,” ucap Hervia Budi Atmadi, setelah terpilih menjadi ketua DPD Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) DIY dalam musdalub di Gedung Aula Balai Pengembangan PAUD dan Dikmas DIY, Rabu (03/10/2018) kamarin.

Baca juga :

Gunungkidul Kembangkan Pantai dengan Wisata Kuliner

Kesadaran Warga Bantul Berikan Imunisasi Tinggi

Menurut Hervia, saat ini banyak generasi muda yang enggan belajar seni merangkai janur karena dianggap kuno. Mereka lebih menyenangi teori desain Eropa yang dipandang lebih moderen dan kekinian. “Jangan sampai seni janur ini keluar dari Yogya. Harus Yogya sebagai pusatnya,” sebut Hervia.

Selain itu ia menilai DIY juga memiliki poteni besar untuk pengembangan IPBI karena banyaknya hotel, tempat budaya pariwisata serta lahan yang belum dioptimalkan. Hanya saja hal tersebut perlu digairahkan dan akan dilakukan di era kepengurusan baru ini setelah vakum sekitar 14 tahun.

“Asetnya banyak, mulai pengusaha, perajin, orang pintarnya dan lain-lain. Tinggal bagaimana menggerakkan lagi. Jangan lagi mendatangkan bunga dari luar daerah. Atau mendatangkan desainer perangkai bunga dari luar wilayah karena Yogya sudah mampu mencukupi,” lanjutnya. (Feb)

BERITA REKOMENDASI