Seniman Muda Ini Pamerkan Senjata-senjata Klithih

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Seniman muda, Yahya Dwi Kurniawan (28) membuat sebuah pameran bertajuk The Museum of Lost Space di Galeri Lorong Nitiprayan Tirtonirmolo Kasihan Bantul. Menarik, Yahya mengeksplorasi fenomena kekerasan jalanan yang kerap disebut klithih sebagai gambaran besar karya seni yang ditampilkannya.

Aroma keras, terasa di area pameran di mana terdisplay senjata-senjata jalanan yang kerap digunakan para pelaku klithih. Begitu pula coretan-coretan di dinding yang menunjukkan berbagai identitas geng-geng di Yogyakarta.

Yahya tampaknya memang ingin menampilkan klithih dari sisi lain yang lebih dekat. Benar saja, pemuda asal Magelang itu harus meriset dengan lebih lekat, bergaul dan melebur bersama geng-geng yang sebagian besar didominasi anak muda dan remaja.

“Sekitar delapan bulan aku menyelami ini, meriset dengan gaya yang berbeda dari sisi lain. Aku main, mengobrol dengan orang-orang bersangkutan, intinya aku juga mencari teman begitu. Dari situ aku dapat cerita dan aku kembangkan untuk karya-karya ini. Beberapa bahkan memberikan senjatanya. Ini nama-namanya juga mereka sebut sendiri misalnya pedang pencabut nyawa atau kapak maut, begitu, jadi sebutan sendiri-sendiri,” ungkap Yahya ketika berbincang dengan KRjogja.com, Jumat (12/3/2021).

Sebuah senjata yang disebut bundhet pari dan sebilah pedang diberikan pada Yahya oleh beberapa pelaku. Sementara senjata-senjata lain direplika Yahya dari hasil riset yang dilakukan sejak delapan bulan silam.

“Di pameran ini aku ingin memberikan ruang bagi pelaku, korban maupun masyarakat karena fenomena klithih ini luar biasa namun pendekatan yang dilakukan selama ini terkesan keliru. Bukan aku membenarkan klithih ya, klithih jelas salah. Hanya saja mari kita menyelami lebih dalam mencari solusi yang tepat,” sambung dia.

Benang merah yang kemudian ingin diintisarikan, membawa Yahya berkesimpulan bahwa fenomena klithih muncul akibat kurangnya ruang bereskpresi untuk anak-anak muda asli Yogyakarta. Pameran tersebut diharapkan bisa memberikan perspektif lain yang kemudian berimbas positif pada penanggulangan peristiwa kekerasan jalanan ini.

“Kita lihat ketika ada klithih, respon yang muncul di sosial media adalah balik kekerasan juga yang menurutku tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Saya ngobrol dengan seratusan lebih pelaku dan mantan pelaku, mereka punya masalah berbeda-beda namun rata-rata karena kesenjangan sosial,” lanjutnya lagi.

Yahya mencontohkan misalnya begitu banyaknya coffee shop dengan harga yang cukup mahal di atas Rp 25 ribu. Anak-anak muda lokal lantas merasa tersisih karena tak mampu mengikuti gaya hidup dengan kondisi penghasilan orangtua atau pribadi yang hanya pada kisaran UMR saja.

“Mereka ke kampung, sudah dipenuhi anak kost dan pendatang yang jumlah kemampuan finansial berbeda. Akhirnya apa yang mereka lakukan, ya turun ke jalan melakukan kekerasan. Mantan-mantan pelaku yang kutemui rata-rata mereka kuliah dan bertemu circle berbeda lalu tak membahas kekerasan, selesai di jalanan. Tapi kalau yang tidak kuliah ya hanya di situ-situ saja, ya kekerasan terus,” tandas Yahya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI