Sentra PKL di Eks Bioskop Indra Usung Konsep Kreativitas Masyarakat

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sentra Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kini tengah dibangun di eks Bioskop Indra mengusung konsep memberikan ruang bagi pedagang sekaligus pejalan kaki di kawasan Malioboro. Meskipun tanpa kuratorial, konten-konten yang masuk di gedung tiga lantai ini tetap akan diseleksi dan menyesuaikan pasar yang dibidik yaitu kelas internasional.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Tavip Agus Rayanto mengakui, sudah ada grand desain pembangunan sentra PKL kawasan Malioboro di bekas Bioskop Indra. Konsep pembangunan sentra PKL di eks Bioskop Indra tersebut memang untuk mendukung jalur pedestrian di kawasan Malioboro. Berbeda dengan bandara produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang masuk harus melalui kurasi sesuai arahan Gubernur DIY.

Baca juga :

Tinggi Tugu Yogya Menyusut 10 Meter

Jalan Terus, Pembangunan Eks Bioskop Indra Tak Terganggu Permasalahan Hukum

”Dengan kata lain produk yang dijual di bandara baru tersebut harus terstandar melalui kuratorial. tetapi kalau sentra PKL di eks Bioskop Indra itu memberikan ruang kepada PKL dan orang yang berjalan kaki,” ujar Tavip.

Tavip menekankan, pada prisipnya sentra PKL kawasan Malioboro yang kini sedang dibangun tersebut sudah dibahas bersama secara garis besarnya termasuk mengenai kontennya seperti bentuk lapak dan jenis produk yang masuk. Meski tidak dikurator pembangunannya, tetapi sesuai arahan Gubernur DIY harus berstandar internasional.

”Artinya saya ingin mengatakan walaupun tidak dipersyaratkan kurator di gedung sentra PKL kawasan Malioboro tersebut, namun tetap memperhatikan standarisasi wisatawan mancanegara atau pengunjung yang bersifat internasional,” jelasnya.

Kreativitas Masyarakat Terpisah Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Singgih Rahardjo SH MEd mengungkapkan, keberadaan sentra PKL di eks Gedung Bioskop Indra diharapkan tidak sekadar mendatangkan keuntungan dari sisi ekonomi, tapi juga bisa dijadikan ajang pengembangan kreativitas masyarakat yang didalamnya termasuk para seniman. Untuk itu itu supaya keberadaan sentra PKL bisa menjadi daya tarik baru bagi para wisatawan.

Desain bangunan harus tetap mengedepankan kekhasan yang dimiliki dan menggunakan acuan sumbu filosofis yang ada. Dengan tetap mengacu pada sumbu filosofi, diharapkan unsur pelestarian dan pengembangan bisa tetap terjaga.

Lebih lanjut Singgih mengatakan, keberadaan Malioboro sebagai kawasan semi pedestrian idealnya menjadikan masyarakat lbih kreatif. Termasuk dalam menghasilkan karya seni, sehingga nantinya Malioboro benar-benar bisa menjadi magnet bagi para pengunjung. Tentunya untuk mewujudkan hal itu dibutuhkan kerja keras dan keseriusan dari semua lini. Karena tanpa adanya keseriusan dan sikap proaktif dari masyarakat, upaya yang dilakukan tidak akan bisa maksimal. (Ira/Ria)

BERITA REKOMENDASI