Serangan Umum 1 Maret, Operasi Militer dengan Kalkulasi Tepat

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan momentum awal pengakuan kedaulatan negara Indonesia di mata dunia. Walau hanya selama enam jam menduduki Yogyakarta, namun hal tersebut telah membuktikan kepada dunia jika angkatan perang dan rakyat Indonesia masih tetap ada untuk siap mengusir Belanda dari tanah air.

“Serangan Umum 1 Maret merupakan keberhasilan bangsa Indonesia. Seluruh elemen bersatu untuk menduduki Yogyakarta yang saat itu merupakan ibukota negara,” kata Ketua Departemen Sejarah FIB UGM, Dr Sri Margana dalam seminar kebangsaan bertajuk ‘Peringatan 70 Tahun SU 1 Maret, Penegakan Kedaulatan NKRI’ yang digelar di Benteng Vredeburg, Sabtu (02/03/2019).

Dikatakan Sri Margana, Serangan Umum 1 Maret merupakan operasi militer dengan perhitungan yang tepat. Para pemimpin militer maupun sipil saat itu telah menghitung jumlah personel yang dimiliki dan membaca kekuatan Belanda serta mengkalkulasi hasil yang bakal dicapai dalam operasi tersebut.

“Makna Serangan Umum 1 Maret yaitu yang pertama sebagai monentum besar bersatunya pimpinan militer, pemimpin sipil dan rakyat. Yang kedua dari sisi militer yakni bahwa TNI sudah memiliki kontribusi reputasi militer untuk bangsa ini,” jelasnya.

Oleh sebab itu menurutnya sudah sepantasnya jika 1 Maret dijadikan sebagai moment bersejarah bagi negeri ini dengan menjadikannya sebagai hari besar nasional. Peringatan tersebut bertujuan agar negeri ini selalu mengingat bahwa pernah ada peristiwa besar selama enam jam di Yogyakarta yang kemudian menjadi tonggak sejarah kedaulatan negara.

Kepala Museum Dirgantara TNI AU, Kolonel (Sus) Dede Nasrudin mengatakan, keberhasilan militer dan rakyat menduduki Yogyakarta langsung dipancarkan melalui siaran radio milik TNI AU yang saat itu bernama AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Siaran radio inilah yang kemudian didengar dunia internasional hingga kepada PBB.

“Anggota-anggota dari jawatan perhubungan AURI dipimpin Kapten Udara Boediardjo mendirikan pangkalan rahasia di Dukuh Banaran Kecamatan Playen daerah Wonosari dengan peralatan Radio PC2. Melalui radio inilah keberhasilan menduduki Yogyakarta dipancarkan ke penjuru dunia,” tegasnya.

Dede Nasrudin menegaskan hal itu membuktikan jika seluruh kekuatan baik militer maupun rakyat saat itu bersatu dan melaksanakan perannya masing-masing. Walau banyak jatuh korban dari pejuang Indonesia namun hal itu terbayar dengan adanya pengakuan dari dunai atas kedaulatan tanah air.

Sementara itu Ketua Paguyuban Wehrkreis III, Sudjono mengatakan 1 Maret bukanlah hari yang diingat oleh warga Yogyakarta saja, namun untuk seluruh masyarakat negeri. Jangan sampai peristiwa bersejarah tersebut dilupakan dan tak teringat lagi jasa-jasa para pahlawan yang gugur kala itu.

“Serangan Umum 1 Maret jangan sampai hilang dalam ingatan bangsa Indonesia. Bahwa di Yogyakarta pada tanggal itu ada peristiwa besar yang tak boleh dilupakan,” jelasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI