Serat Centhini, Kitab Kamasutra Ala Jawa

Editor: Ivan Aditya

RUTINITAS keseharian masyarakat Jawa tak bisa dilepaskan dari etika dan norma sosial berlaku dalam masyarakat. Tujuannya tak lain untuk mengatur keseimbangan antara hubungan kehidupan duniawi maupun spiritual. Hal tersebut tak terkecuali perihal norma kehidupan antara seorang suami dan istri.

Jika di India memiliki Kamasutra, tanah Jawa pun tak ketinggalan memiliki kitab serupa. Bernama Serat Centhini, kitab ini menuliskan tentang berbagai hal dan tata cara kehidupan manusia khususnya hubungan antara pasangan.

Serat ini digubah pada awal abad ke-19 atau sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga. Centhini ditulis dalam bentuk lagu Jawa yang terdiri atas 722 tembang yang diantaranya bicara soal seks dan seksualitas.

Baca juga :

Empat Ilmu Kanuragan Tersohor Tanah Jawa
Tujuh Pusaka Melegenda di Tanah Jawa
Buang Sial di Goa Siluman Wonocatur Banguntapan

Kitab setebal 4.000 halaman lebih ini yang terbagi atas beberapa jilid dimana diantaranya memuat ajaran erotika. Dalam Centhini, seks tak diartikan hanya sebagai hubungan badan pria dan perempuan melainkan juga tata cara serta adab kesopanan antara suami istri agar saling menghargai serta menghormati.

Masalah seksual dalam Centhini diungkap dengan berbagai versi. Bahkan seks juga dibicarakan dalam kaitannya dengan penikmatan hidup atau pelampiasan hasrat.

Dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) misalnya, diungapkan soal ‘foreplay’ pada organ-organ sensitif. Mulai dari mencumbu, berfantasi maupun membuat pasangan pria lebih tangguh agar tak cepat ejakulasi.

Terungkap pula peran perempuan saat berada di ranjang tak juga selamanya harus bersifat pasif. Perempuan dalam serat ini juga memiliki kebebasan untuk mengeksporasi pasangannya agar sama-sama mencapai kenikmatan yang dinginkan.

Dalam Serat Centhini juga terungap soal tata krama dalam melakukan hubungan seksual. Diantara dalam melakukan hubungan badan harus mengetahui situasi dan keadaan serta tak tergesa-gesa menyelesaikan urusan ranjang.

Disarankan pula dalam Centhini tata krama sebelum melakukan hubungan suami istri yakni mandi terlebih dahulu, berdandan maupun memakai wewangian agar semakin menambah hasrat pasangan. Kalender penanggalan juga dhitung dalam masalah ini, yakni misalnya pada tanggal-tanggal tertentu disarankan seorang pasangan untuk mengekspoitasi bagian tubuh tertentu agar mencapai kenikmatan.

Serat Centhini tak ketinggalan mengulas posisi saat bersebadan. Dalam melakukan penetrasi misalnya akan terdapat gaya Lir Ngaras Gandane Sekar (mencium baunya bunga), Lir Bremana Ngisep Sekar (kumbang mengisap madu), Lir Lumaksana Pinggire Jurang (berada di tepi jurang), Kadya Galak Sawer (mematuk seperti ular), Baita Layar Anjog Rumambaka (kapal layar turun ke laut) beberapa syair lainnya. (*/Van)

BERITA REKOMENDASI