SMK SMTI Yogyakarta Dipercaya Industri Merakit GeNose C19

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Jurusan Kimia Industri dan Teknik Mekatronika SMK SMTI Yogyakarta dinilai mempunyai kompetensi dalam produksi GeNose C19 yang dibutuhkan semua pihak di masa pandemi Covid-19 ini. Sehingga mendapat kepercayaan dari industri yang memproduksi GeNose C19 untuk bermitra dengan SMTI Yogyakarta dalam perakitan GeNose C19.

“SMTI Yogyakarta sebagai sekolah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memiliki hubungan erat dengan dunia industri dari penyusunan kurikulum, pemagangan sampai penempatannya. Adanya komunikasi antara industri dengan SMTI Yogyakarta melahirkan kepercayaan untuk merakit produk ini,” tutur Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Ir Arus Gunawan saat kunjungan ke SMTI Yogyakarta di Jalan Kusumanegara Yogyakarta, Jumat (26/02/2021).

Dalam kesempatan ini Arus Gunawan turut menyaksikan penandatanganan MoU antara industri produsen GeNose C19 dari PT Swayasa diwakili Dr Bondan Ardiningtyas MSc Apt dan dari PT YPTI diwakili Petrus Tedja Hapsoro dengan SMTI Yogyakarta yang diwakili Kepala SMTI Rr Ening Kaekasiwi ST MP. Turut hadir Sekretaris Badan Pengembangan SDM Industri Yulia Astuti, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri Dadi Marhadi, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Vokasi Industri Iken Retnowulan, Direktur Politeknik ATK Sugiyanto, Kepala BDI Yogya Tevi Dwi Kurniaty dan tamu undangan terbatas lainnya dengan prokes Covid-19.

Dilanjutkan kemudian peninjauan ke Teaching Factory SMTI Yogya melihat langsung perakitan GeNose C19 oleh siswa SMTI Yogya yang dalam sehari bisa merakit 200-an GeNose C19 dan sebulan ditargetkan 3.000 GeNose C19. “SMTI Yogya memiliki fasilitas pendukung yang sesuai untuk perakitan GeNose C19 dan merupakan salah satu bentuk kerja sama antara sekolah (unit pendidikan) dengan industri atau yang sering kita kenal dengan link and match,” jelas Arus

Dengan metode pendidikan vokasi yang mengacu pada penguasaan keahlian terapan tertentu maka lebih banyak kegiatan praktik dibandingkan kegiatan teori. “Dalam menciptakan penguasaan keahlian terapan pada peserta didik, dunia pendidikan harus mendengarkan pengguna lulusannya yaitu dunia industri sehingga aktivitas vokasi harus dirancang bersama antara dunia pendidikan dan dunia industri agar lulusan sesuai yang dibutuhkan industri (link and match),” jelasnya.

Arus menyebutkan Kemenperin membangun link and match dunia pendidikan dengan industri, selalu dimulai dari pemenuhan SDM berdasarkan kebutuhan (demand side). “Setiap unit pendidikan memiliki spesialisasi bidang industri tertentu. Kegiatan vokasi dilaksanakan bersama industri mulai dari penyusunan kurikulum dan modul pembelajaran, tenaga pengajar (guru dan dosen)/ instruktur dari industri, kegiatan praktek kerja siswa di industri/ magang dilakukan bersama dengan industri,” paparnya.

Selain itu, untuk pembentukan kompetensi peserta didik, seluruh unit pendidikan Kemenperin dilengkapi dengan fasilitas yang menunjang, berupa workshop, laboratorium, dan teaching factory yang sesuai dengan perkembangan di industri. “Juga disediakan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) untuk penyelenggaraan sertifikasi kompetensi sehingga lulusannya terjamin kompetensinya dan lebih berdaya saing,” tegasnya.

Disebutkan Teaching Factory yang ada di SMTI Yogya adalah model pembelajaran berbasis produk (barang/jasa) melalui sinergi sekolah dengan industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan industri. “Manfaat Teaching Factory untuk meningkatnya kolaborasi dengan dunia usaha/dunia industri meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melalui interaksi dengan dunia usaha/dunia industri dan terjadinya perubahan paradigma pembelajaran dan budaya kerja di institusi pendidikan vokasi, serta meningkatnya efisiensi dan efektivitas pengantaran soft skills dan hard skills kepada peserta didik,” ujarnya. (R-4)

BERITA REKOMENDASI