SMK SMTI Yogyakarta Dipercaya Merakit GeNose C19

Editor: Agus Sigit

Arus menyebutkan Kemenperin membangun link and match dunia pendidikan dengan industri, selalu dimulai dari pemenuhan SDM berdasarkan kebutuhan (demand side). “Setiap unit pendidikan memiliki spesialisasi bidang industri tertentu. Kegiatan vokasi dilaksanakan bersama industri mulai dari penyusunan kurikulum dan modul pembelajaran, tenaga pengajar (guru dan dosen)/ instruktur dari industri, kegiatan praktek kerja siswa di industri/ magang dilakukan bersama dengan industri,” paparnya

Selain itu, untuk pembentukan kompetensi peserta didik, seluruh unit pendidikan Kemenperin dilengkapi dengan fasilitas yang menunjang, berupa workshop, laboratorium, dan teaching factory yang sesuai dengan perkembangan di industri. “Juga disediakan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) untuk penyelenggaraan sertifikasi kompetensi sehingga lulusannya terjamin kompetensinya dan lebih berdaya saing,” tegasnya.

Disebutkan Teaching Factory yang ada di SMTI Yogya adalah model pembelajaran berbasis produk (barang/jasa) melalui sinergi sekolah dengan industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan industri. “Manfaat Teaching Factory untuk meningkatnya kolaborasi dengan dunia usaha/dunia industri meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melalui interaksi dengan dunia usaha/dunia industri dan terjadinya perubahan paradigma pembelajaran dan budaya kerja di institusi pendidikan vokasi, serta meningkatnya efisiensi dan efektivitas pengantaran soft skills dan hard skills kepada peserta didik,” ujarnya. (R-4)

 

BERITA REKOMENDASI