Sosok Jurnalis Negarawan

YOGYA, KRJOGJA.com –  Publik selama ini mengenal sosok Prof Dr Ahmad Syafii Maarif sebagai guru bangsa, cendekiawan Muslim, sejarawan, negarawan, pendidik, dan pejuang kemanusiaan. Namun sangat sedikit khalayak yang mengetahui bahwa mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah (2000-2005) ini pernah menjadi wartawan.

Buya menjadi jurnalis di majalah 'Suara Muhammadiyah', merintis karier sebagai korektor pada 1965-1972, lalu mejadi staf redaksi hingga 1982, dan puncaknya menjadi pemimpin redaksi (1988-1990). Pengalaman Buya selama menjadi jurnalis itu dituangkan dalam buku 'Ahmad Syafii Maarif Sebagai Seorang Jurnalis', yang diluncurkan dalam Gala Dinner di Grand Quality Hotel Yogyakarta, Sabtu (24/02/2018) malam.

Peluncuran dihadiri Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, Menteri BUMN Rini Soemarno, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, Dirut BNI Achmad Baiquni, Bupati Sleman Sri Purnomo, Dirut PT BP KR dr Gun Nugroho Samawi, serta para tokoh lain.

"Buku ini sangat penting untuk mngenal dan meneladani sosok Buya secara utuh. Sebab, pengalamannya sebagai jurnalis amat berpengaruh dalam membentuk Buya Syafii yang kita kenal sekarang, yaitu seorang pemikir, penulis prolifik, sejarawan dan negarawan," kata Pemimpin Perusahaan 'Suara Muhammadiyah' Deni Asyari.

Buya menuturkan, pekerjaan sebagai jurnalis membuka cakrawala berpikir dan membentuk karakter dirinya hingga seperti sekarang. Buya ketika itu banyak mewawancarai tokoh nasional seperti Roeslan Abdulgani dan AH Nasution, serta belajar dari para politisi di era 1960-an.

"Dari para tokoh nasional itu saya belajar untuk berani dan jujur pada prinsip. Di antara para tokoh bangsa itu sering timbul gesekan karena perbedaan ideologi, namun dalam hubungan pribadi mereka tetap dekat," kata Buya.

Menurut Buya, sikap politisi negarawan seperti itu yang sulit ditemui sekarang ini. "Politisi zaman dulu intelektual, sekarang politisi saling menghujat, tidak ada adab lagi. Agar bangsa ini siuman secara moral dan ketimpangan sosial ekonomi tidak parah, saya harap politisi sekarang jangan berhenti sebagai politisi, tapi naik kelas menjadi negarawan," urai Buya.

Bambang Soesatyo mengatakan dirinya mengenal Buya sebagai negarawan yang luar biasa, kejujuran dan ketulusannya tercermin dari setiap kata dan lakunya. Setelah membaca buku tentang Buya sebagai jurnalis, Bambang menjadi maklum mengapa setiap langkah Buya selalu tanpa beban dan keraguan.

"Buya selalu memberikan nasihat untuk jujur pada diri sendiri, sehingga nurani dan akal sehat tidak akan pernah mengkhianati kita. Kejujuran, keihklasan tanpa pamrih itu tersermin dalam buku ini dna membuka pintu kesadaran baru bagi saya," tutur Bamsoet, sapaan Bambang.

Apresiasi yang sama juga diungkapkan Rini Soemarno, bahwa Buya memberikan keteladanan bagaimana sesorang harus bersikap dan berprinsip. Buya mengajarkan agar akal sehat dan nurani tidak boleh digadaikan oleh kepentingan apa pun.

"Buya adalah sosok negarawan yang patut jadi panutan. Buya memberi keteladanan untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama, apapun latar belakangnya. Politisi dan semua anak bangsa perlu belajar pada Buya," kata Gun Samawi. (Bro)

BERITA REKOMENDASI