Suci Teguh Gemar Mengoleksi Mobil Kuno

Editor: Agus Sigit

Bagi penggemar mobil kuno di Yogyakarta, nama Suci Teguh BY SE memang tak asing lagi. Sebab pria yang tinggal di Sleman ini, sudah cukup lama mengoleksi beberapa mobil kuno yang tahun dan merknya berbeda alias tidak sama dari mobil yang satu dengan yang lainnya. Kecintaannya dalam mengoleksi mobil kuno yang digeluti sejak tahun 1990 lalu tersebut tidak terlepas dari rasa hobi dan yang menarik lagi punya nilai investasi. “Ketertarikan saya mengoleksi mobil kuno ini sejak masih menjadi mahasiswa. Awalnya memiliki mobil kuno memang didasari rasa senang saja, tapi setelah memiliki mobil kuno dari berbagai jenis dan tahun produksi, saya ingin terus merawatnya,” ujar Suci Teguh yang ditemui di kediamannya di dusun Popongan, Sinduadi, Mlati Sleman, belum lama ini.

Disebutkan, rasa ingin memiliki mobil kuno sekaligus merawatnya memang tidak datang begitu saja, tapi dirinya ingin meneruskan dan melestarikan mengoleksi mobil kuno yang dirintis dari mbah buyutnya Ranu Pawiro pada zaman Belanda. Mbah buyutnya tersebut meninggal tahun 1980 lalu.

Selain disibukkan mengoleksi mobil kuno, dirinya masih sempat mengurusi dua organisasi olahraga otomotif yaitu sebagai Ketua umum (Ketum) Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno (PPMKI) DIY dan Ketua umum Ikatan Sport Harley Davidson (ISHD). Tidak hanya itu, Suci Teguh juga punya usaha di bidang properti yang kini dirinya menjadi Pengurus Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Yogya dan Pemilik Dandan Griya Indonesia (DGI).

Menurut Suci, hingga saat ini dirinya mengoleksi mobil kuno sebanyak 10 unit dari berbagai merk dan produksi. Di antaranya, mobil kuno Ford Fairline tahun produksi (1958), mobil Ford F 100 (1956), mobil Impala STW 1964, mobil Desoto (1950), GMC Pick Up (1948), mobil Impala (1962) dan VW 411. “Dari 10 mobil yang saya koleksi tersebut, yang sering saya gunakan untuk kejuaraan mobil kuno adalah mobil kuno Ford Fairline 1958. Ke-10 mobil kuno tersebut, saat ini sedang di restorasi atau dikembalikan ke bentuk aslinya oleh tiga mekanik Raharjo Prayogo, Nugroho dan Sigit yang membantu saya di bengkel dekat rumah,” ujarnya.

Dari mobil kuno yang dikoleksi Suci, satu unit mobil di antaranya mobil kuno Impala STW 1964 pernah dimiliki Presiden RI pertama Ir Soekarno yang telah berpindah tangan ke Maestro lukis Affandi. ” Dari Affandi berpindah tangan lagi kepemilikkannya kepada Direktur STIEkers Kerja Sama. Tahun 2005 mobil kuno Impala STW 1964 oleh anak Direktur STIEKERs tersebut, dijual kepada saya,” lanjut Suci.
“Memiliki mobil kuno saya akui punya nilai investasi. Nilai jualnya lebih tinggi daripada kita menjual tanah. Asalkan tahu jenis mobil, tipe, kelas dan tahun produksinya. Mobil kuno yang saya miliki ini bukan untuk dijual, tapi untuk dikoleksi saja. Pada saatnya nanti, saya akan menambah jumlah koleksi mobil kuno lagi dari yang ada sekarang,” sambungnya.

Bagi yang mengoleksi mobil kuno, harus tahu cara merawatnya agar saat digunakan di jalan raya terasa lebih nyaman. Cara merawatnya, mobil harus dipanasi sebelum jalan, check oli, check air radiator, check rem, kelistrikan dan minyak rem. Tentang kelistrikan, jangan didiamkan saja, sekaligus untuk mengetahui kabel itu masih utuh atau lecet akibat dimakan tikus atau tidak.Juga untuk menghindari kebakaran mobil imbas dari konsleting.”Mobil kuno dicat ulang biar nggak bosan dan lebih mengkilap. Kalau dicat ulang nilai jualnya tidak berpengaruh. Yang penting mobil kuno tersebut masih orisinil baik mesin dan spartpart yang lainnya,” pungkas Suci yang juga mengoleksi motor gede Harley Davidson. (Rar)

 

BERITA REKOMENDASI