Sudah Tepatkah Slogan “Saya Pancasila”?

YOGYA,KRJOGJA.com – Slogan bertajuk "Saya Pancasila" begitu membahana di kalangan masyarakat Indonesia dan menghiasi media sosial pada peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2017 lalu. Namun, gemanya seolah terhenti begitu saja usai hari peringatan tersebut berlalu.

Kemudian muncul pemikiran sudah tepatkan slogan "Saya Pancasila" tersebut? Apakah tak hanya semakin mengkotak-kotakkan bangsa karena terlalu bangga menyatakan Saya Pancasila tapi melupakan implementasi dalam hidup sehari-hari.

Anggota MPR RI Cholid Mahmud dalam sosialisasi 4 pilar Jumat (9/6/2017) mengatakan slogan Saya Pancasila selama ini terkesan hanya mengkotak-kotakkan masyarakat saja karena mengarah pada evaluasi kederajatan Pancasila. Menurut dia, ungkapan tersebut lebih baik memang tak perlu dikeluarkan apabila hanya sebagai slogan belaka.

"Harusnya sudah bukan saya tapi kami Pancasila, karena nadanya hanya akan mengkotak-kotakkan saja kalau menyebut saya atau kamu," ungkapnya di hadapan tokoh masyarakat DIY di kantor DPD RI.

Dalam kesempatan tersebut senator daerah pilih DIY ini kembali mengingatkan untuk mewujudkan ideologi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurut dia, substansi dari lima sila sudah sangat jelas tertuang dan tinggal dijalankan oleh seluruh warga negara Indonesia.

"Substansi isi ke lima sila dalam Pancasila itu sudah jelas, yakni Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan tinggal bagaimana kita terapkan saja. Misalnya kalau ada tetangga yang meninggal ya layat, kalau ada tetangga butuh bantuan ya dibantu, hal-hal sederhana tapi menunjukkan betul apa itu Pancasila," imbuhnya.

Menurut Cholid, Pancasila sudah sangat cocok ditempatkan pada posisinya sebagai sumber dari semua sumber hukum dalam tata hierarki aturan perundangan. Dengan aturan-aturan yang merupakan turunan dari Pancasila itu yang akan digunakan menilai perilaku sesorang sebagai baik atau buruk, salah atau benar dalam konteks kehidupan bernegera kita.

"Karenanya Pancasila itu diyakini sejalan dengan prikehidupan masyarakat Indonesia dilihat dari semua dimensinya yakni sosiologis, psikologis, budaya, keyakinan hingga beragama," pungkas Cholid. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI