‘Sugar Daddy’ Jadi Incaran

Editor: Ivan Aditya

Cari sugar daddy di mana ya?

KALIMAT itu tertulis di beranda facebook seorang cewek. Bagi yang paham, status tersebut mengagetkan, bahkan mengerikan. Sedemikian berani. Tanpa tedeng aling-aling.

Berbagai komentar pun bermunculan. Selain bernada canda, ada yang serius menanggapi.

“Ikutttt.”
“Di aplikasi kencah akeh….”
Susah, kebanyakan belang.”

Ya, sugar daddy sedang viral. Karena jadi fokus pembicaraan, pun diincar sebagian orang.

Apa itu sugar daddy?

Sebuah istilah untuk pria yang menjanjikan finansial pada seseorang yang lebih muda. Laki-laki dewasa yang royal memberi uang pada kekasih atau simpanannya, yang berusia jauh di bawahnya.

Fenomena seperti ini bukan hal baru. Sudah ada sejak dulu. Namun di era sekarang, lebih terbuka. Bahkan seorang cewek terang-terangan mencari sugar daddy lewat facebook-nya, yang otomatis akan terketahui banyak orang.

Di manca negara, hal biasa. Di grup Sugar Daddy facebook, ‘iklan’ seperti itu betebaran. Bahkan memosting foto diri disertai kalimat keinginannya. Semisal “Daddy plz” atau “I need sugar daddy.”

Tanpa menganalisa panjang, akan terketahui motif para pencari sugar daddy tersebut. Yaitu uang. Di zaman susah mengais uang, banyak orang bermimpi hidup enak. Karena mencari kerja susah, atau bekerja namun hasil pas-pasan, jalan pintas ditempuh. Mencari ‘bos’ yang mau menggelontorkan uang. Imbalannya, tubuh dan kasih sayang ‘imitasi’.

“Kalau tidak matre, tidak hidup. Tidak bisa mengikuti gaya hidup teman, jelas menyedihkan. Itu alasan saya punya sugar daddy,” papar Mey (25), mahasiswi.

Meski ‘mencari’ uang lewat aksi yang diakui ‘rusak’, Mey tidak menuntut yang berlebih. “Seberapapun kuterima. Yang penting dompet ada isinya saat belanja atau walk fun sama teman. Aku tak minta yang tinggi seperti mobil atau rumah. Meski ada yang seperti itu,” ucap Mey yang tidak sembarang mengiyakan sugar daddy.

Lain Her (34). Motif utamanya uang. Maka ia tidak pernah melihat penampilan sugar daddy yang datang.

“Yang penting uangnya gede dan lancar. Meski berisiko, dapat yang usianya terlalu tua. Kalau yang seperti itu, aku nggak mau tampil di depan publik bersamanya,” papar perempuan berkulit putih itu.

Hasil bertualang mencari sugar daddy, ia mendapat sebuah mobil. Namun diakui, banyak yang tidak mulus. “Rata-rata putus karena muncul masalah. Ketahuan istri, atau kalau yang sudah jomblo, dikisruh keluarganya,” papar Her yang mengaku jika tidak menjalankan aksinya, hidupnya kapiran. Karena tak punya pekerjaan.

Pada teman-teman terdekat, Her tidak malu melakukan itu. Bahkan kadang, ia minta tolong mengenalkan sugar daddy. “Biasa saja. Yang penting ortu jangan tahu. Bisa shok,” ujarnya.

Fenomena sugar daddy diakui Wahyu Bintari SPsi MPsi, sedang marak belakangan ini. Biasanya hubungan ini didasari faktor keuangan. Banyak anak muda, terutama cewek, kata Wahyu, ingin terlihat wow. Bergaya hidup mewah dengan cara instan.

“Membeli barang mewah, jalan-jalan ke luar negeri. Banyak meniru atau menjiplak gaya hidup idola mereka yang selalu mereka jumpai setiap waktu di sosmed maupun media elektronik,” papar Dosen Psikologi Politeknik Negeri ATK Yogyakarta itu.

Di usia yang masih belia rata-rata belum berpenghasilan cukup, tapi keinginan memiliki barang-barang mewah menjadi alasan si sugar babby mencari sugar daddy. “Yang bisa memenuhi keinginan mereka,” kata perempuan berusia 35 tahun itu.

Anak muda seperti ini, di mata Wahyu, konsep dirinya tidak jelas. Bisa disebabkan karena jiwa remaja yang masih labil dan galau dalam proses pencarian jati diri. Pola asuh orangtua yang terlalu cuek pada anak. “Bisa juga karena lingkungan pergaulan yang membentuk mereka terbawa arus gaya hidup jetset,” paparnya.

Meningkakan perhatian pada anak perempuan, salah satu solusi menghindari ‘tragedi’ sugar daddy. “Orangtua harus lebih waspada. Terutama saat anak gadisnya mulai masuk masa puber. Hal-hal kecil misalnya memberi perhatian sederhana semacam mendengarkan cerita anak, memantau lingkaran pertemanan, diutamakan” ujar Wahyu Bintari.

Psikolog yang tinggal di Timoho Yogyakarta ini juga berharap, anak dibekali ilmu agama dan diajari berakhlak dengan contoh nyata. Orangtua yang di mata anak harmonis akan membentuk frame of references positif pada anak. “Sehingga mereka punya konsep hubungan yang sehat,” tandas Wahyu. (Lat)

BERITA REKOMENDASI