Sujud PRRT Ternyata Sedang Berjuang Lawan Penyakit Batu Empedu

YOGYA, KRJOGJA.com – Rabu (13/9/2017) pagi pegiat seni dan masyarakat dikejutkan dengan kabar meninggalnya Sujud Sutrisno "Kendang", seorang seniman jalanan yang menamakan diri sebagai Penarik Pajak Rumah Tangga (PRRT). Kabar tersebut menyebar cepat melalui pesan berantai dan berbagai ucapan dengan segera mengalir di media sosial.

Namun ternyata, kabar duka tersebut tidak benar karena ternyata Mbah Sujud masih 'sugeng' dan berada di rumah kontrakan sederhana di Badran RT 51 RW 11 Kota Yogyakarta bersama sang istri Mami Sumaryati. Kondisi pria 64 tahun yang dikenal sebagai seniman door to door ini terlihat sehat meski sebenarnya tengah berjuang melawan penyakit batu empedu dan infeksi hati.

Penyakit yang sebenarnya sudah harus membuat Sujud naik ke meja operasi ini membuat pelantun "Mata Indah Bola Pingpong" versi humor ini tak lagi bisa bekerja mengais rejeki dari kendangnya. Praktis hari-harinya hanya dihabiskan di rumah tanpa bisa melakukan hal berat.

Beberapa waktu terakhir, keadaan Sujud disebut sang istri semakin membaik dibuktikan dengan kemampuan berjalan yang telah kembali. Ini pula yang sebenarnya membuat Mami yakin suaminya segera sembuh dan dapat berkarya lagi.

"Kondisi Mbah Sujud sudah jauh lebih, tadi pagi (Rabu) malah mau saya ajak ke Wirosaban untuk kontrol karena saat jatuh sakit beberapa bulan lalu dokter belum berani mengoperasi batu empedunya. Eh malah ada kabar meninggal tadi dan banyak teman dan keluarga datang, akhirnya ya tidak jadi," ungkapnya tersenyum.

Selama tak bekerja, sang istri Mami lantas berinisiatif membantu perekonomian keluarga dengan berjualan gorengan di rumahnya. "Rejeki berlebih kadang datang dari rekan-rekan Mbah Sujud yang peduli, hanya itu saja karena dia tak bisa kerja lagi," sambung Mami.

Mbah Sujud sendiri mengungkap tidak tahu kalau ia dikabarkan meninggal dunia hari ini. Hanya saja, handphonennya berdering terus sejak pagi hari karena semua orang menanyakan kebenaran kabar tersebut.

Pandangan Mbah Sujud sudah jauh menurun, begitu pula dengan pendengaran dan daya ingat. Meski masih terlihat menahan sakit, namun Mbah Sujud sempat menyanyikan sedikit lirik lagu Mata Indah Bola Pingpong meski tak sampai selesai karena ia mengaku lupa.

"Mata indah bola pingpong, ono bocah kecemplung genthong. Ngejak mulih numpak andhong, tekan ngomah ketiban dondong. Sepatu dari kulit tengu, akupun tak suka, aduh lali terusane opo," ungkapnya dengan suara yang tak lagi sekencang dulu.

Perbincangan yang tak berjalan dengan lancar karena kurangnya pendengaran Mbah Sujud pun mengarah pada harapan kedepan tentang profesi soloist kendang dengan genre humor/parodi. Mbah Sujud tak punya anak sehingga tidak ada yang bisa diminta meneruskan profesi seniman kendang.

"Kok tidak ada lagi penerus saya main kendang sendiri seperti ini, masih ada yang mau tidak ya kira-kira. Saya tidak punya anak, hanya gawan dari istri pertam yang sudah meninggal dan tidak ada yang suka main kendang," sambung pria asli Tegal Kepatihan Klaten inj.

Tak bisa lebih lama obrolan kami lakukan karena melihat kondisi Mbah Sujud yang tampaknya masih butuh banyak istirahat. Namun, di akhir perbincangan saat wartawan meminta Mbah Sujud berfoto bersama istri, ia sempat pula berkelakar tak kehilangan selera humor.

"Wah koyo Rano Karno karo Lidya Kandouw nek ngeneki," ucapnya diikuti tawa beberapa orang yang mendengar dan akan memotretnya.

Tampaknya, apapun yang menjadi akhir garis hidup Mbah Sujud PRRT nanti, sebutan legenda layak disematkan karena komitmennya menjadi seniman kendang sejak tahun 1964 lalu, hampir seluruh periode hidupnya. Enggal dhangan Mbah Sujud. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI