Sulistyowati Anggraini : Loyal, Kunci Utama Sukses

Editor: Ivan Aditya

USIA tak menjadi kendala berkarier dan menjemput kesuksesan. Selama masih punya gairah dan keinginan maju, apapun bisa diatasi. Banyak yang terkejut saat Sulistyowati Anggraini tiba-tiba menjadi perancang busana. Di acara daring Yogya Fashion Runway yang syuting di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta (12-15/11/2020), Oma –begitu panggilannya– menampilkan delapan baju pesta karyanya.

Salah satu peragawati yang memakai busana karya rancangan Oma di acara garapan Rumah Pentas itu, cucunya: Louis Ang, yang dikenal sebagai peragawati internasional. Kebahagiaan lengkap dirasakan Oma di acara tersebut.

“Sebenarnya bukan baru. Ini hobi lama yang tertunda. Waktu muda, saat SMA, pernah ikut modeling. Juga seneng fesyen, bisa jahit- menjahit,” ujar Oma tentang profesi barunya itu.

Menurut ibu tiga anak delapan cucu ini, jika sekarang baru kesampaian mengimplementasikan obsesi lama, karena takdirnya memang sekarang. “Saya sering nganter cucu saya Louis, ikut peragaan busana di mana-mana. Dari sering melihat, akhirnya termemori hobi lama, jadi tertarik lagi. Kalau baru munculsekarang, tak bisa dipungkiri faktor uang berpengaruh. Waktu itu nggak mampu, tak ada uang,” papar pengusaha roti itu. Oma punya tiga pabrik roti di Surabaya, Jakarta, dan Yogya.

Sejak remaja dikenal ulet dan gigih. SMP, Oma bikin jenang jagung dan donat. Dikerjakan malam hingga dini hari. Esoknya, makanan itu dijajakan neneknya. Lulus SMA sempat jadi manajer di sebuah pabrik besar. Namun kemandiriannya lebih kuat, memilih berwirausaha. Berkat kerja keras dan cerdas, akhirnya bisa menjadi pengusaha sukses. Oma yang kini tinggal di Jalan Wates Kadipiro Sonosewu Yogyakarta, merasa tidak tua memulai menjadi perancang busana.

“Teman-teman dan keluarga mendukung. Buat ngisi kesibukan di usia tua. Usia tua, nggak baik juga kalau nganggur. Usaha roti sudah ditangani anak dan saudara. Saya tinggal memantau yang penting saja, tidak seperti dulu mengurusi semua. Saya bisa membagi waktu kok, antara ngurusi roti dan me- rancang baju,” tandas pemilik merek Paris Bakery (Surabaya), Dian Bakery (Jakarta), dan Roti Bedjo (Yogya).

Menurut Oma, kunci sukses agar berhasil usaha yaitu loyal. “Kita harus loyal. Intinya, kerja apa saja harus loyal. Kerja dengan orang juga harus tetap loyal. Loyal itu utamabagi saya. Itu yang bikin saya berta- han dengan usaha roti,” bebernya. Apresiasi dan dukungan banyak pihak membuat Oma –yang Oktober kemarin berusia 64 tahun– makin yakin dengan profesi barunya.

“Ke depan ingin bikin baju pantai. Akan saya luncurkan di peragaan busana berikutnya,” tandas Om yang dua putranya mukim di Australia.

Tidak hanya sukses berbisnis, Oma juga punya peran besar menjadikan cucunya peragawati papan atas. Oma yang menyemangati, dan memfasilitasi Louis. Bahkan sering mengantar ketika Louis ikut peragaan busana di berbagai kota. Di kalangan perancang busana dan insan mode, Oma dikenal ramah dan apikan. Realitas itu membuatnya dicintai banyak orang. Di masa pandemi dengan kreasi baru, bagi Oma sangat berarti. Positif.

“Kita dituntut aktif dan pintar mencari celah bermanfaat dan menghasilkan. Harus jeli. Kenapa saya memilih usaha makanan, karena orang selalu butuh makan dalam kondisi apapun. Dan itu terbukti. Meski pandemi, roti tetap laku meski tidak seperti sebelum pandemi. Agar terus bertahan, terus cari pelanggan baru. Dituntut ulet. Jangan mudah menyerah, harus yakin,” ucap Oma. (Latief ENR)

BERITA REKOMENDASI