Sultan Ingin Upayakan Penanganan Klithih Dari Pendekatan Psikologis Keluarga

YOGYA, KRJOGJA.com – Tindakan hukum tegas pada pelaku klithih ternyata tak membuat perilaku kekerasan tersebut lenyap dari wilayah DIY. Teranyar, gerombolan pelajar ditangkap saat hendak menyerbu geng sekolah lain dengan berbagai senjata hasil modifikasi berhasil disita. 

Usia anak-anak tersebut belum genap 17 tahun, sebuah hal miris yang menambah luka masyarakat Yogyakarta. Namun, mereka berani melakukan aksi kekerasan, melukai atau bahkan berniat merenggut nyawa hanya dengan latar dendam antar geng. 

Baca Juga: Klithih Marak Lagi, Harus Diselesaikan Sistematis

Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan berbagai upaya komprehensif sudah coba dilakukan untuk menangani permasalahan klithih tersebut. Polda DIY sudah menerapkan upaya hukum tegas pada para pelaku, pun demikian dengan Dinas Pendidikan melalui sekolah sudah bersiap menerapkan sanksi tegas bagi anak-anak yang terlibat kekerasan. 

Namun begitu nyatanya klithih tetap saja ada, seolah juga mengalami regenerasi. Sultan mengungkap anak-anak pelaku klithih mayoritas merupakan anak kurang beruntung dengan kondisi keluarga tidak utuh. 

Pendekatan berbeda kini coba dilakukan yakni melalui dialog dengan para orang tua. “Jadi memang tidak bisa kalau bicara klithih itu hilang karena mayoritas itu ternyata orang kurang beruntung dalam arti mungkin broken home dan sebagainya. Jadi kemarin kita sepakat tapi nanti masih ada pembicaraan lagi bagaimana caranya kita membangun dialog dengan orang tua dari anak-anak itu. Di dalam upaya kita untuk ya tidak hanya dengan orangtua tapi dengan saudara-saudaranya untuk bisa mengatasi kita coba melakukan pendekatan budaya untuk berdialog, sebenarnya keluarga itu punya masalah apa ya kan,” ungkap Sultan Senin (13/1/2020). 

Baca Juga: Klitih Tebar Teror, Mobil Anggota DPRD Dilempar Batu

Sultan mengatakan pemerintah ingin mengetahui lebih mendalam apa permasalahan yang dihadapi anak-anak tersebut hingga nekat menuangkan sisa tenaga ke dalam aksi kekerasan jalanan. “Mungkin kekerasan itu pelarian kan bisa saja. Dia minum minuman keras sebagai pelarian juga bisa karena dia nggak tahan dalam rumah. Tapi persoalan seperti itu kan perlu kita dialogkan dan persoalannya apa nanti pada waktu kita bertemu mereka, ya apa yang bisa kita lakukan dan mungkin motifnya berbeda-beda. Tapi dari hasil penelitian dari psikologi kemarin itu mayoritas kehidupan rumah tangga keluarga kecenderungan broken home. Sebelum terlanjur ya kita coba ridak hanya kulit tapi kita mau selesai sampai isinya,” tandas Sultan. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI